EmitenNews.com - Setiap tanggal 1 Juli, Bank Dunia merilis "rapor" tahunan yang berisi klasifikasi pendapatan negara di seluruh dunia. Ibarat kompetisi, daftar ini mengelompokkan negara berdasarkan pendapatan rata-rata per orang atau Gross National Income (GNI) per kapita.

Status ini menentukan apakah sebuah negara masih dianggap "miskin" sehingga berhak mendapat pinjaman dengan bunga murah (concessional loans), atau sudah dianggap "mampu" sehingga harus lebih mandiri dalam mencari dana pembangunan.

Tahun ini, ada enam negara yang naik kasta. Namun, cara mereka naik kelas berbeda-beda: ada yang karena memang makin produktif, ada juga yang karena "hitung ulang" data statistik.

Cerita di Balik Kenaikan Status

Banyak yang mengira kenaikan status artinya ekonomi sebuah negara tiba-tiba meledak. Padahal, ceritanya tidak selalu begitu.

Vietnam dan Filipina berhasil naik kelas karena mesin ekonominya memang sedang panas.

  • Vietnam: Mereka sukses menjadi pusat manufaktur global baru. Banyak perusahaan memindahkan pabrik dari Tiongkok ke Vietnam, membuat ekspor barang elektronik, smartphone, tekstil, dan furnitur mereka terus tumbuh. Pertumbuhan GNI rata-rata 10% per tahun selama 2021-2025 menjadi salah satu pendorong utamanya. Pada pengumuman klasifikasi teranyar, GDP per kapita Vietnam mencapai USD 5.066.
  • Filipina: Mereka mengandalkan kekuatan konsumsi domestik dan sektor jasa. Konsumsi rumah tangga yang tinggi, aliran remitansi pekerja migran yang besar, serta sektor jasa seperti BPO (Business Process Outsourcing) tumbuh pesat. Filipina mencapai status ini melalui ekspansi ekonomi yang berbasis luas di semua sektor utama.

Selain itu, Sri Lanka dan Mikronesia juga masuk kategori naik kelas karena adanya pertumbuhan riil di sektor ekonomi. 

  • Sri Lanka: Pemulihan pasca-krisis (rebound). Kenaikan ini bersifat pemulihan, bukan ekspansi struktural jangka panjang, yang menunjukkan resiliensi pasca-gagal bayar (default) tahun 2022.

  • Mikronesia: Pertumbuhan moderat yang didorong oleh sektor konstruksi dan pertanian pasca-COVID-19.

Uniknya, ada negara yang naik kelas bukan karena produktivitas ekonomi yang melonjak tajam.

  • Yordania: Mereka melakukan rebasing data ekonomi. Setelah dihitung dengan metode yang lebih akurat, ternyata ekonomi mereka 10% lebih besar dari perkiraan sebelumnya.
  • Togo: Mereka naik status karena hasil sensus penduduk terbaru menunjukkan jumlah penduduk yang lebih sedikit dari perkiraan. Karena pendapatan dihitung per orang, saat jumlah penduduk (sebagai pembagi) berkurang, pendapatan per orang otomatis terlihat lebih tinggi.

Analogi "Lulus dari Inkubator"

Bayangkan kenaikan status ini seperti startup yang baru saja lulus dari program inkubator bisnis. Ketika masih di inkubator, perusahaan dimanja dengan fasilitas, mentor, dan pendanaan murah. Begitu "lulus" ke pasar terbuka, aturan main berubah total: