EmitenNews.com - Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat bergerak menguat tipis pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Penguatan ini terjadi setelah tiga indeks utama pasar saham Wall Street berada di bawah tekanan pada sesi sebelumnya akibat lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.

Kontrak berjangka yang terhubung dengan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq 100 masing-masing mencatatkan kenaikan sekitar 0,2 persen pada sesi pagi. Pergerakan ini menghentikan pelemahan dari sesi perdagangan reguler pada Selasa (29/9/2026), di mana Dow Jones turun 0,26 persen, S&P 500 terkoreksi 0,17 persen, dan Nasdaq Composite melemah 0,09 persen.

Penekanan pada bursa AS sebelumnya dipicu oleh kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Laporan Trading Economics pada Rabu (30/9/2026) mencatat bahwa imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun naik hingga menyentuh 5,62 persen, mencapai tingkat tertinggi sejak Juni 2002. Sementara itu, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik mendekati 5,3 persen, menandai level tertinggi baru sejak 2007.

Pelemahan pada perdagangan Selasa lalu menyeret 7 dari 11 sektor di S&P 500 ke zona merah. Sektor energi, material, dan barang kebutuhan pokok menjadi pemimpin penurunan di bursa saham AS.

Para investor saat ini memilih bersikap hati-hati sambil menantikan rilis laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada Rabu (30/9/2026). Indikator tersebut merupakan ukuran inflasi utama yang menjadi acuan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Sepanjang bulan September 2026, indeks Dow Jones tercatat mengalami penurunan sekitar 3,5 persen, S&P 500 bergerak stagnan atau sedikit berubah, sedangkan Nasdaq Composite berhasil menguat sebesar 1,6 persen.

Tingginya imbal hasil obligasi AS berpotensi memicu volatilitas aliran modal asing (capital outflow) di pasar saham serta memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.(*)