Saham TUGU Digadang-gadang Bisa Naik Jadi Segini
:
0
Seseorang berjalan di dekat logo TUGU. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Asuransi Tugu Pratama Indonesia (TUGU) menjadi salah satu emiten asuransi dinilai masih belum mendapat apresiasi sepadan dari pasar. It diungkap analis KISI Sekuritas Muhammad Wafi dalam riset terbarunya. TUGU merupakan salah satu pemain utama industri asuransi umum Indonesia dengan posisi unik.
TUGU didirikan untuk mendukung kebutuhan manajemen risiko Pertamina, dan hingga kini masih menjadi bagian penting dari ekosistem bisnis grup energi nasional tersebut, dengan Pertamina (Persero) sebagai pemegang saham pengendali 58,5 persen. Selama lebih dari empat dekade, TUGU berkembang bersama Pertamina dalam mengelola berbagai risiko strategis, mulai dari energi, maritim, hingga aset properti.
Hubungan telah terbangun dalam jangka panjang tersebut tidak hanya memberi pemahaman mendalam terhadap karakteristik risiko sektor energi, tetapi juga mendorong pengembangan kapasitas underwriting, dan reasuransi menjadi salah satu kekuatan utama TUGU saat ini. Analis KISI menilai hubungan jangka panjang tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi model bisnis TUGU.
"Hubungan captive ini telah bertahan melewati lima pergantian pemerintahan di Indonesia, dua siklus besar harga minyak, krisis keuangan 1998, hingga restrukturisasi Pertamina pada 2020 yang menunjukkan ketahanan kemitraan bisnis telah teruji dalam berbagai siklus ekonomi dan perubahan kebijakan.” ungkapnya.
Lebih lanjut, KISI menilai keberadaan Pertamina dalam ekosistem bisnis TUGU tidak semata-mata menciptakan basis pendapatan yang stabil, tetapi juga memungkinkan perusahaan membangun keahlian teknis yang sulit direplikasi oleh banyak pemain lain di industri asuransi umum Indonesia.
Meski memiliki fondasi bisnis kuat, valuasi saham TUGU dinilai masih belum mencerminkan nilai intrinsiknya. Pada saat riset diterbitkan, saham TUGU diperdagangkan pada valuasi hanya 0,44 kali nilai buku, jauh di bawah estimasi nilai wajarnya.
Dalam risetnya, KISI juga mengungkap salah satu faktor yang sempat menimbulkan kekhawatiran investor adalah lonjakan rasio klaim setelah implementasi PSAK 117. Namun menurut KISI, fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh dampak transisi standar akuntansi baru dibandingkan memburuknya kualitas underwriting perusahaan.
Hal tersebut tercermin dari hasil jasa asuransi atau insurance service result yang justru meningkat 39 persen menjadi lebih dari Rp1 triliun sepanjang 2025. Dengan kata lain, profitabilitas inti bisnis asuransi tetap menunjukkan tren yang positif.
Selain itu, TUGU juga diperkirakan memperoleh manfaat dari portofolio investasinya yang mencapai lebih dari Rp11 triliun. Lingkungan suku bunga yang relatif tinggi dinilai dapat memberikan tambahan kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan investasi perusahaan dalam beberapa tahun mendatang.
Dari sisi imbal hasil bagi pemegang saham, TUGU juga menawarkan daya tarik tersendiri. Perseroan membagikan dividen Rp100 per saham dari laba tahun buku 2025, yang setara dengan dividend yield sekitar 8,6 persen. KISI bahkan memperkirakan dividen dapat meningkat menjadi Rp137 per saham pada 2026.
Related News
Bank Raya Dukung Inklusi Keuangan Digital Generasi Muda
BUMI Suntik Dana Arutmin, Pasar Cermati Proyek Hilirisasi Batu Bara
Bangun Cetak Biru Kedaulatan Digital, Telkom (TLKM) Perkuat Kolaborasi
Kabar Gembira untuk Investor BCA, Dividen Interim Dibagikan 26 Juni!
Pan Brothers (PBRX) Bidik Pertumbuhan Penjualan 10 Persen di 2026
Wahana Inti Makmur (NASI) Targetkan Penjualan Rp66 Miliar di 2026





