EmitenNews.com - PT SMR Utama Tbk (SMRU) mengungkapkan kondisi terkini keuangan imbas berhentinya PT Ricobana Abadi (RBA), anak usaha perseroan. Hal ini disampaikan SMRU dalam tanggapan atas permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Corporate Secretary SRMU, Arief Novaldi menerangkan, berhentinya anak usaha yang efektif sejak 20 September 2025 itu, dipicu runtuhnya jembatan Muara Enim Lawai yang mempengaruhi jalur pengangkutan batubara.

Imbasnya, mitra kerja RBA, yakni PT Manggala Usaha Manunggal (MUM) turut menghentikan operasional dan mengajukan perjanjian kerja sama serta klaim force majeure pada Januari 2026. Akan tetapi, Arief menilai klaim tersebut melampuai batas waktu yang disepakati dalam kontrak.

“Perlu diketahui bahwa pemberitahuan Keadaan Memaksa/Force Majeure yang diajukan oleh PT Manggala Usaha Manunggal telah melebihi batas waktu yang ditentukan sebagaimana diatur dalan Perjanjian Penambangan sebagai upaya untuk menghilangkan kewajiban atas standby rate,” ujar Arief, dikutip Senin (20/7).

Di samping itu, masalah keuangan hingga persoalan hukum turut memicu kerugian berulang yang dialami perseroan. Di mana dalam laporan keuangan 2025, SMRU mencatat kerugian komprehensif sebesar Rp18,45 miliar, akumulasi defisit hingga Rp1,51 triliun, serta liabilitas jangka pendek membengkan melebihi aset lancar sebesar Rp598,94 miliar.

Selain itu, kasus hukum yang menerpa PT Trada Alam Minera Tbk dan komisaris utamanya, berimbas terhadap pembekuan akses kemenkumham, pembatasan perizinan, hingga penutupan akses terhadap sumber daya pembiayaan.

“Tertutupnya akses terhadap sumber daya pembiayaan belanja modal (capex) dan modal kerja (working capital) sehubungan dengan operasional penambangan sehingga RBA tidak dapat melakukan peremajaan alat-alat beratnya sehingga berdampak pada penurunan produksi sejak tahun 2020,” tutur Arief.

Efek lainnya yakni sekitar 75 pekerja saat ini telah dirumahkan imbas kejadian tersebut.

Kini perseroan berencana untuk mencari peluang melalu proyek baru dengan sejumlah pihak guna memperbaiki tekanan yang menimpa kinerja perseroan.

“Perseroan dan entitas anak terus berupaya untuk secara maksimal menjaga kelangsungan usahanya. Perseroan masih berupaya untuk mencari proyek-proyek baru dengan melakukan diskusi dan pertemuan dengan beberapa pemilik tambang,” ungkap Arief.