EmitenNews.com - Mayoritas indeks saham di Asia sore ini Kamis (16/9) ditutup turun meskipun data terkini memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi AS masih akan tetap kuat. Investor masih menantikan rilis data mingguan pasar tenaga kerja (Weekly Jobless Claims) dan Penjualan Ritel AS nanti malam.


Dari kawasan Asia, ekonomi Australia mengurangi tenaga kerja dalam jumlah yang lebih bersar dari estimasi, seiring dengan pemberlakukan kebijakan Lockdown di dua kota terbesar (Sydney dan Melbourne) di negara itu. "Sehingga ini mempersulit proses pencarian kerja dan memicu dunia usaha melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)," kata analis Phillip Sekuritas, Dustin Dana Pramitha.


Jumlah tenaga kerja berkurang 146,300 bulan lalu, lebih besar dari estimasi penurunan 80,000. Tingkat Pengangguran turun menjadi 4.5% seiring dengan berkurangnya Tingkat Partisipasi (Participation Rate) menjadi 65.2% dari 66%.


Di Jepang, Ekspor tumbuh 26.2% (Y/Y) di bulan Agustus dan memperpanjang pertumbuhan double-digit menjadi 6 bulan beruntun. Namun angka untuk bulan Agustus ini lebih rendah dari estimasi kenaikan 34% dan lonjakan 3&% (Y/Y) pada bulan sebelumnya.


Impor melambung 44.7% (Y/Y) didorong oleh tingginya permintaan atas bahan bakar dan peralatan medis. Akibatnya, Neraca Perdagangan mengalami defisit JPY635.4 miliar (USD5.81 miliar), terbesar sejak Desember 2012.


Selain itu, untuk pertama kali dalam 4 bulan terakhir, Pemerintah Jepang merevisi ke bawah (downgrade) pandangan mereka terhadap ekonomi.


Perubahan pandangan ini menurut Dustin merefleksikan laju pemulihan ekonomi Jepang yang lebih lambat, bukan perubahan arah atau trajektori laju pertumbuhan. Pemerintah Jepang dijadwalkan merilis perhituingan awal (preliminary) data pertumbuhan ekonomi (PDB) 3Q21 pada tanggal 15 November.


Dari sisi geoplolitik, investor akan memantau respon Tiongkok atas pembentukan Kemitraan Keamanan (Security Partnership) antara AS, Inggris dan Australia. Langkah ini bisa dianggap Tiongkok, yang sedang terlibat perang dagang dengan Australia, sebagai sebuah ancaman terhadap kepentingan nasional mereka seperti program Belt and Road.


Mekipun Australia menciptakan risiko memburuknya hubungan dagang dengan Tiongkok, mitra dagang utama mereka, namun banyak pihak yang meyakini bahwa tingginya kebutuhan Tiongkok atas berbagai Sumber Daya Alam akan membatasi respon yang bisa diambil Tiongkok untuk menghukum Australia.


Statistik
IHSG: 6,109.94 | -0.29 poin |(-0.00%)
Volume (Shares) : 27.2 Billion
Total Value (IDR) : 11.7 Trillion
Market Cap (IDR) : 7,483.2 Trillion
Foreign Net BUY (RG): IDR 428.4 Billion
Saham naik : 226
Saham turun : 278


Sektor Penekan Indeks:
Teknologi : -238.49 poin
Kesehatan : -15.52 poin
Barang Konsumen Non-Primer : -4.42 poin


Top Gainers:
TPIA : 7,475| +475| +6.79%
STTP : 7,375| +450| +6.50%
BBSI : 5,975| +425| +7.66%
GGRM : 32,350| +350| +1.09%
ITMG : 18,250| +250| +1.39%


Top Losers:
DCII : 44,750| -1,500| -3.24%
FISH : 8,925| -650| -6.79%
NFCX : 10,325| -600| -5.49%
JECC : 6,475| -475| -6.83%
SLIS : 4,840| -360| -6.92%.(fj)