EmitenNews.com - Industri kreatif digital telah menjadi salah satu wajah baru perekonomian nasional. Berbagai subsektor mulai dari konten digital, gim, animasi, desain, hingga platform ekonomi kreatif berbasis teknologi tumbuh pesat dan berkontribusi nyata terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta daya saing bangsa.

Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ali Murtopo Simbolon, menyebut perkembangan teknologi digital dan AI telah membuka ruang baru bagi lahirnya inovasi, model bisnis, serta ekosistem ekonomi baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Generasi muda, khususnya generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, memiliki keunggulan adaptif untuk menjadi motor penggerak perubahan tersebut.

Dengan pemahaman dan pemanfaatan teknologi digital, generasi muda berpotensi menjadi penggerak utama New Economy Engine yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masa depan.

“Menko Airlangga itu sudah merancang tiga sumber pertumbuhan yang dapat dan sudah terbukti melewati pertumbuhan konvensional. Sektor digital, khususnya di AI nanti itu, bisa menyumbang pertumbuhan sampai 20% untuk suatu kemajuan perekonomian,” jelasnya pada Pembukaan “Pelatihan Gig Economy bagi Gen Z”, di Kabupaten Sleman, Kamis (15/1).

Saat ini, Indonesia sedang menikmati bonus demografi di mana Gen Z yang berjumlah lebih dari 74 juta jiwa mendominasi populasi usia produktif. Namun, tantangan muncul seiring masih terbatasnya ketersediaan lapangan kerja formal, ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri, serta pesatnya perubahan teknologi yang menuntut keterampilan baru. Kondisi ini menuntut adanya strategi adaptif dan inovatif agar potensi besar Gen Z dapat dioptimalkan secara produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Untuk mendorong penciptaan lapangan kerja dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional, Pemerintah sudah merumuskan Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) 2025 yang mengakselerasi empat program hingga 2026, serta lima program penyerapan tenaga kerja. Salah satu program unggulan adalah Penguatan Ekosistem Gig Economy yang menyasar Gen Z, dengan pilot project di DKI Jakarta pada 18 Desember 2025 yang bersamaan dengan Soft Launching AI Open Innovation Challenge yang akan diluncurkan pada pertengahan Februari 2026.

“Ini sudah semakin modern, semakin virtual juga bisa kita lakukan nanti. Jadi dengan adanya model-model gig seperti ini, harapan kita ini akan ditargetkan di 15 kota. Kita targetkan sebanyak 3 ribu peserta dalam 1 bulan, sementara kalau tadi 300 peserta dalam satu term,” ungkap Deputi Ali.

Program Pelatihan Gig Economy untuk Gen Z di Provinsi DIY ini dilakukan selama tiga hari, yaitu di hari pertama diawali dengan talkshow berjudul “Gig Economy untuk Gen Z: Peluang dan Tantangan” serta pelatihan pertama. Pada kesempatan ini, Deputi Ali juga meninjau ke kelas-kelas dan berdialog singkat dengan para peserta pelatihan. Kelas pelatihan akan dilanjutkan untuk hari kedua (16 Januari) dan ketiga (17 Januari).

Talkshow itu menjadi sangat relevan dan strategis yang diharapkan tidak hanya menjadi ruang diskusi dan pertukaran gagasan, tetapi juga mampu menggali, menjaring, dan memetakan talenta-talenta potensial (talent pool) serta ide-ide dan inovasi kreatif (idea pool) yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

“Saat ini, untuk smart factory maupun smart estate, semuanya butuh AI untuk bisa bersaing lebih cepat. Namun, pesan dari Pak Menko beda bahwa AI ini bukan malah tidak membutuhkan tenaga kerja, karena dasar dari AI adalah struktur data. Nah, struktur data itu dikerjakan oleh kita-kita, karena hal itu yang diolah menjadi solusi dari AI tersebut. Nanti juga akan dibuat di seluruh kota AI Open Challenge Competition, yang akan menjadi wadah menjaring seluruh ide dari adik-adik ini atau sebagai idea pool. Juga nanti yang memberikan ide tentu ada talent, jadi juga kita ada talent pool,” tutup Deputi Ali.(*)