EmitenNews.com - Lonjakan pendapatan belum cukup menjaga konsistensi laba PT Sinar Terang Mandiri Tbk. (MINE) sepanjang 2025. Meski penjualan tumbuh, tekanan biaya produksi justru menggerus profitabilitas emiten jasa pertambangan yang IPO pada 10 Maret 2025 lalu itu.

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Kamis (12/3/2026), perseroan mengumumkan laba bersih tahun berjalan yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp202,02 miliar hingga 31 Desember 2025. Nilai tersebut merosot 34,01 persen secara year on year (yoy) dibandingkan Rp306,14 miliar pada periode tahun 2024.

Topline atau sisi pendapatan MINE mencatatkan kenaikan menjadi Rp2,36 triliun atau lebih tinggi 11,85 persen yoy dari Rp2,11 triliun pada 2024.

Namun, peningkatan tak sebanding dengan kenaikan tajam beban pokok pendapatan yang mencapai Rp1,95 triliun, atau melonjak 25,00 persen yoy dari Rp1,56 triliun. Dampaknya, laba bruto perseroan terpangkas menjadi Rp405,81 miliar dari Rp557,93 miliar atau menyusut 27,27 persen secara year on year.

Sementara itu, beban usaha berhasil ditekan menjadi Rp99,63 miliar dibandingkan Rp124,69 miliar pada tahun sebelumnya atau berkurang 20,10 persen yoy. Meski demikian, laba usaha tetap melemah menjadi Rp306,17 miliar dari Rp433,23 miliar, atau terkoreksi 29,32 persen secara year on year.

Pada level pra-pajak, laba sebelum pajak (EBITDA) tercatat Rp216,52 miliar atau anjlok 45,02 persen yoy dibanding Rp393,85 miliar pada tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat menjadi Rp2,07 triliun hingga akhir 2025 atau naik 28,57 persen yoy dari Rp1,61 triliun pada akhir 2024.

Liabilitas tercatat Rp1,14 triliun atau bertambah 14,00 persen yoy dari Rp1,00 triliun. Sementara, ekuitas perseroan mencapai Rp934,9 miliar, melonjak 54,17 persen secara year on year dibanding Rp606,4 miliar pada periode sebelumnya.

Beriringan dengan terbitnya pembukuan keuangan tahun penuh 2025 ini, pada perdagangan Jumat (27/2) saham MINE tercatat menurun tipis 0,96 persen turun 2 poin di posisi Rp344.