EmitenNews.com - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak stabil pada Kamis (24/9) setelah indeks utama pasar saham Wall Street melemah pada sesi perdagangan sebelumnya. Tekanan pasar dipicu oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS akibat data ekonomi yang kuat, lelang obligasi yang lemah, serta kekhawatiran inflasi dari sektor energi.

Berdasarkan data Trading Economics, imbal hasil treasury AS tenor 10 tahun melonjak hingga mencapai kisaran 5,11 persen. Angka tersebut menjadi level tertinggi imbal hasil obligasi pemerintah AS sejak Juli 2007.

Dalam perdagangan reguler pada Rabu (23/9), indeks Dow Jones tercatat turun 0,68 persen, S&P 500 melemah 0,75 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 1,13 persen. "Sepuluh dari 11 sektor S&P berakhir lebih rendah, dipimpin oleh layanan komunikasi, utilitas, dan barang konsumsi non-esensial," rilis Trading Economics pada Kamis (24/9).

Lonjakan imbal hasil obligasi ini mengekor rilis data PMI Global S&P yang menunjukkan lonjakan pesanan baru serta inflasi harga input dan output tertinggi dalam beberapa tahun. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve pada sisa tahun ini.

Di saat yang sama, pemulihan harga minyak bumi akibat ketidakpastian pembicaraan diplomatik AS-Iran menambah kekhawatiran inflasi global. Para pelaku pasar kini menanti rilis data klaim pengangguran mingguan AS serta laporan keuangan emiten besar seperti Costco dan Darden Restaurants.

Gejolak pasar saham dan lonjakan imbal hasil obligasi AS hingga level tertinggi dalam dua dekade tersebut berpotensi memicu peralihan dana asing (outflow) dari pasar berkembang menuju aset berisiko rendah di Amerika Serikat.(*)