S&P Afirmasi Rating RI, Bukti Arah Kebijakan Pemerintah Dipercaya
:
0
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB merupakan bukti kepercayaan kuat komunitas internasional terhadap arah kebijakan pemerintah. (Foto: Ekon)
EmitenNews.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan keputusan S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB merupakan bukti kepercayaan kuat komunitas internasional terhadap arah kebijakan pemerintah.
S&P mengafirmasi Sovereign Credit Rating Republik Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook Stabil. Melalui siaran persnya Airlangga menilai afirmasi ini menjadi pengakuan atas ketahanan fundamental ekonomi nasional di tengah tekanan geopolitik global dan pengetatan kondisi keuangan dunia.
Ia menegaskan bahwa pencapaian ini memberikan sinyal positif yang sangat kuat bagi pasar global. "Afirmasi peringkat oleh S&P pada level BBB dengan outlook Stabil merupakan pengakuan atas konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Pemerintah," katanya.
Di tengah ketidakpastian global yang meningkat, Indonesia mampu menjaga pertumbuhan di kisaran 5%, mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit di bawah 3% PDB, serta memperkuat tata kelola sektor sumber daya alam. Ini menjadi sinyal positif bagi investor bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid," ujar Menko Airlangga.
Dalam laporannya, S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5,1 persen secara riil pada 2026, dengan PDB per kapita diperkirakan berada pada kisaran USD5.200 pada tahun tersebut. Penopang utama kelayakan kredit ini adalah prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, kebijakan makroekonomi yang prudent, serta rekam jejak kepatuhan pemerintah dalam menjaga batas defisit anggaran di bawah 3 persen PDB.
Selain disiplin fiskal, S&P mengapresiasi kinerja penerimaan negara yang tumbuh 19 persen pada lima bulan pertama 2026. Lembaga internasional tersebut juga menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang dinilai dapat menertibkan praktik miss-invoicing serta transfer pricing di sektor komoditas.
S&P menyatakan bahwa peringkat kredit Indonesia berpeluang naik jika terjadi penguatan struktural, seperti penyempitan defisit anggaran mendekati 2 persen PDB dan peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan.
Merespons proyeksi tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus mendorong transformasi ekonomi melalui hilirisasi dan peningkatan produktivitas. "Konsistensi dan prediktabilitas kebijakan akan menjadi kunci untuk mendorong peringkat Indonesia naik ke level yang lebih tinggi," pungkas Menko Airlangga.(*)
Related News
Blokade Hormuz Trump Picu Harga Gas Eropa Terbang Tinggi
Harga Emas Dunia Turun Akibat Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz
Harga Minyak Melonjak Imbas Trump Blokade Selat Hormuz
Rambah Ibu Kota, Bank Kalteng Buka Kantor Layanan Pemasaran di Jakarta
Pajak Marketplace, BDO di Indonesia Dorong Korporasi Perkuat Mitigasi
Dari Freeport AS, Armada Pertamina Bawa Pasokan 45,9 Ribu Ton LPG





