EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis hingga lebih dari 8 persen menuju level 5.393. Pelemahan mendalam ini membuat pasar kehilangan sekitar 500 poin dan memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama hampir dua menit akibat aksi jual besar-besaran oleh investor.

Anjloknya pasar modal domestik terjadi setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan konsultasi terkait wacana reklasifikasi status pasar Indonesia, dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar tersendiri (standalone market). Potensi penurunan status ini menjadi penanda nyata atas parahnya masalah transparansi di pasar keuangan nasional.

Ekonomi Senior Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J Rachbini, menyatakan bahwa ancaman reklasifikasi dan penurunan tajam ini berakar dari krisis kepercayaan atau trust terhadap integritas pasar modal Indonesia.

"Saham kita jatuh dan anjlok karena masalah trust, ini harus dipulihkan dengan aksi yang bertanggung jawab," kata Didik dalam rilis pemikirannya yang diterima media.

Didik menilai terjadi kesenjangan yang nyata antara aturan kelembagaan formal dan perilaku di lapangan. Investor institusional internasional telah lama menaruh kekhawatiran terhadap aspek kelayakan investasi serta tata kelola pasar ekuitas di Indonesia yang terindikasi tidak transparan.

Para pengamat dan pelaku pasar menduga adanya praktik perdagangan terkoordinasi yang memicu distorsi harga serta disfungsi pasar. Pihak otoritas dinilai kurang sensitif terhadap kekhawatiran ini, sehingga saat fakta tersebut terkuak, modal asing melarikan diri dari pasar yang dinilai tidak jujur.

Selain itu, struktur kepemilikan saham di Indonesia dinilai sangat terkonsentrasi dan sulit dilacak secara jelas. Kondisi ini mempertegas buruknya keterbukaan informasi di pasar modal nasional.

Meskipun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerapkan reformasi formal seperti aturan free float dan pengungkapan kepemilikan saham minimal 1 persen, langkah tersebut dianggap belum memberikan dampak positif yang konkret pada fungsi harian pasar.

Didik mengibaratkan pasar modal seperti kerang laut yang paling awal mendeteksi kerusakan lingkungan. Sinyal bahaya berupa ancaman status standalone market dari MSCI ini merupakan peringatan serius bagi kondisi ekonomi politik Indonesia secara lebih luas.

Jika krisis transparansi ini dibiarkan, biaya modal perusahaan nasional dipastikan meningkat dan investor institusional bakal terus mengurangi eksposurnya. Dampaknya, kemampuan pasar modal dalam membiayai kegiatan ekonomi dan industri nasional dapat anjlok.