EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami tekanan. Pada perdagangan kemarin (15/4/2026) rupiah ditutup di level Rp17.143 setelah sebelumnya ditutup di level Rp17.127.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memandang proyeksi pertumbuhan Indonesia yang dikeluarkan IMF tahun 2026 hanya mencapai 5 persen, lebih rendah dibanding Januari lalu yang sebesar 5,1 persen.

Serupa, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2026, turun dari estimasi sebelumnya sebesar 4,8 persen. Penurunan itu, kata Ibrahim, sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang direvisi menjadi 3,1 persen imbas konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan.

“Kendati demikian, Asian Bank Development (ADB) masih memandang positif prospek ekonomi Indonesia dengan estimasi pertumbuhan sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027,” ujar Ibrahim.

Sementara dari sentimen global, menguatnya dolar imbas blokade laut yang dilakukan AS membuat rupiah kian tertekan. Komando pusat AS menyatakan bahwa blokade pelabuhan Iran telah sepenuhnya diterapkan, sehingga aktivitas keluar-masuk lewat jalur laut dihentikan.

Hal ini, lanjut Ibrahim, mengindikasikan kesepakatan gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran. Pasar juga mencermati potensi respons Iran yang sebelumnya sempat mengancam akan memblokir jalur Selat Hormuz sebagai bentuk balasan.

“Kondisi ini mendorong sentimen risk-off di pasar keuangan global, di mana investor cenderung beralih ke aset lebih aman seperti dolar. Di sisi lain, fluktuasi harga minyak masih jadi perhatian utama, meski saat ini berada di bawah level psikologis USD100 per barel,” tutur Ibrahim.

Adapun pada perdagangan hari ini, Kamis (16/4/2026) mata uang rupiah masih fluktuatif, namun diperkirakan ditutup melemah di rentang Rp17.140 hingga Rp17.180. (*)