Saham INCO Melesat di Saat Harga Nikel Stagnan, Apa Rahasianya?
:
0
Saham INCO Melesat di Saat Harga Nikel Stagnan, Apa Rahasianya? Dok. Kumparan
EmitenNews.com - Nikel adalah logam berharga yang dulunya banyak dipakai untuk membuat baja anti karat (stainless steel), namun kini manfaat nikel sangat besar sebagai bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik (kendaraan EV). Naik turunnya harga nikel dunia jelas berpengaruh besar ke emiten terkait, termasuk saham INCO hari ini. Menurut data terkini, harga nikel mulai stabil di tingkat normal, bergerak di angka 136 pada Bloomberg Nickel Subindex per April 2026, tidak lagi melonjak tinggi secara tidak wajar seperti pada tahun 2022 lalu. Karena harganya sudah kembali normal, cara kita melakukan analisis saham INCO juga harus berubah.
Anomali Pada Harga Saham INCO
Berdasarkan data penutupan pasar pada 10 April 2026, harga saham INCO ditutup pada level Rp6.150 per lembar, naik tipis 0,82 persen secara harian. Jika ditarik sejak awal tahun berjalan (YTD), grafik saham INCO telah melonjak cukup tajam sebesar 18,84 persen. Pencapaian ini menjadi positif jika dibandingkan dengan harga nikel dunia (Bloomberg Nickel Subindex) yang hanya naik sekitar 2,04 persen sejak awal tahun. Artinya, saham INCO bergerak jauh lebih positif mengalahkan pergerakan harga komoditasnya sendiri.
Fenomena ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa cara kita melakukan analisis saham INCO harus berubah. Kita tidak bisa lagi hanya mengacu pada harga nikel global, tetapi harus melihat fundamental perusahaannya. Laporan keuangan tahun 2025 INCO memberikan jawaban mengapa investor pasar modal kini sangat optimis terhadap emiten ini.
Kas yang Diubah Jadi Pabrik
Jika kita melihat laporan keuangan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), jumlah uang kas (uang tunai di bank) mereka terlihat turun dari USD674,69 juta pada 2024 menjadi USD376,35 juta pada akhir 2025. Kendati demikian, jika kita hanya melihat sekilas harga saham INCO saat ini, mungkin akan mengira ini hal buruk.
Kenyataannya, uang kas tersebut dipakai untuk hal yang sangat produktif yakni pembangunan pabrik pengolahan (smelter). Di laporan keuangan, ada pos bernama Aset dalam Penyelesaian (aset proyek yang sedang dibangun) yang nilainya mencapai USD841,97 juta. Ini artinya, INCO sedang sibuk membangun pabrik besar di Pomalaa dan Bahodopi agar ke depannya mereka bisa mengolah nikel sendiri menjadi bahan baterai, bukan sekadar menambang dan menjual tanah mentah.
Patungan Utang untuk Amankan Proyek
Membangun pabrik raksasa tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Agar uang tunai perusahaan tidak habis di tengah jalan, pada bulan Maret 2026, INCO mengambil langkah strategis dengan meminjam dana (kredit bank) senilai USD500 juta. Uang pinjaman ini akhirnya memastikan bahwa proses pembangunan pabrik tidak akan terhenti atau tertunda karena kehabisan uang.
Sembari membangun pabrik, INCO juga rajin melakukan pengeboran untuk memastikan cadangan nikel di lahan mereka cukup untuk menyuplai bahan baku pabrik tersebut nantinya. Sebagai informasi tambahan, peta persebaran nikel di Indonesia memang cukup luas. Selain di area Sulawesi, pencarian publik mengenai keberadaan tambang nikel di Raja Ampat atau raja ampat tambang nikel (yang umumnya dikaitkan dengan operasi perusahaan lain seperti PT Gag Nikel) juga sangat populer. Kendati demikian, INCO tetap berfokus seratus persen pada wilayah operasinya sendiri di Pulau Sulawesi.
Related News
Dibuang MSCI, TPIA Bagi Dividen USD30 Juta, Laba Asli atau Kosmetik?
Bisa Bagi Dividen Tapi Saham Ambruk 62%, Ini Alasan TPIA Dihukum MSCI
Bisnis AMMN Aman? Saham Konsorsium Para Taipan yang Dihempas MSCI
Fundamental Bisnis DSSA, Anak Emas Sinarmas yang Dibuang MSCI
13 Saham Keluar MSCI Small Cap, Free Float ANTM Semu atau Beda Rumus?
IHSG Anjlok Imbas MSCI: Incar Saham Diskon, Jauhi Saham Sampah!





