EmitenNews.com - Secara teori, pasar modal adalah tempat bertemunya para pelaku rasional yang mengalokasikan modal berdasarkan kalkulasi nilai intrinsik dan prospek bisnis. Namun, realitas di lapangan sering kali jauh dari buku teks. 

Ketika seorang investor membuka aplikasi pesan singkat dan melihat ratusan pesan di grup saham menyorakkan satu kode emiten yang sedang meroket, rasionalitas sering kali menguap dalam hitungan detik, digantikan oleh dorongan primitif yang disebut FOMO (Fear of Missing Out).

Bursa saham tidak hanya menguji ketahanan modal, tetapi juga ketahanan kognitif. Banyak investor yang cerdas secara akademis mendadak melakukan keputusan irasional saat berhadapan dengan histeria massa. Fenomena ini bukanlah kebetulan. Ini adalah eksploitasi sistematis terhadap kelemahan psikologis manusia yang sering dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan, atau yang di bursa domestik populer dengan istilah sindikat pompom.

Untuk melindungi portofolio dari manipulasi narasi, kita harus membongkar struktur mentalitas kawanan ini hingga ke akar akademisnya.

Ilusi Informational Cascades: Mengapa Kita Mengikuti Kawanan?

Sastrawan Leo Tolstoy pernah mengobservasi bahwa manusia sering kali lebih bersedia menerima keyakinan yang salah asalkan keyakinan tersebut diamini oleh banyak orang di sekitarnya, daripada harus berdiri sendirian mempertahankan kebenaran yang tidak populer.

Di pasar modal, fenomena ini dijelaskan secara presisi oleh Sushil Bikhchandani, David Hirshleifer, dan Ivo Welch dalam riset klasik mereka di Journal of Political Economy (1992) melalui konsep Informational Cascades (Kaskade Informasi).

Kaskade informasi terjadi ketika seorang investor secara rasional mengabaikan hasil analisis fundamental pribadinya semata-mata karena melihat tindakan mayoritas orang lain. 

Bayangkan kamu telah menganalisis sebuah emiten dan menyimpulkan bahwa valuasinya sudah terlalu mahal dan utangnya berisiko (value trap). Namun, ketika kamu melihat influencer keuangan dan ribuan anggota grup Telegram tiba-tiba memborong saham tersebut dan memamerkan tangkapan layar keuntungan (screenshot profit), kamu mulai meragukan analisis kamu sendiri.

Baca Juga: Portofolio Merah Bikin Panik, Apakah Uang Kita Aman di Bursa Saham?

Otak manusia berevolusi untuk percaya bahwa "jika semua orang melakukannya, mereka pasti tahu sesuatu yang tidak saya ketahui."