Usai Jumat Keramat, Berikut Cara Trading Cerdas di Tengah Hantu MSCI
:
0
Suasana penutupan IHSG edisi 2025. Foto - Dok Emitennews
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepekan drop 14,91 persen atau 908,65 poin menjadi 5.185 dari pekan sebelumnya 6.093. Koreksi tajam terjadi secara bertahap pada Senin 2,59 persen ke 5.936, Selasa-Rabu konsolidasi 5.926-5.943, Kamis minus 1,33 persen menjadi 5.863, dan Jumat anjlok 11,57 persen menjadi 5.185, menjadi penurunan harian terdalam sejak krisis 1998, dan level terendah tahun ini.
Tekanan Jumat pekan lalu dipicu pengumuman MSCI membuka konsultasi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Pada Jumat keramat itu, IHSG dibuka melemah 8,01 persen menjadi 5.393, dan BEI langsung memberlakukan trading halt 30 menit. Sesi I ditutup melorot 10,76 persen menjadi 5.233, dan sesi II melanjutkan pelemahan ke 5.185.
Seluruh sektor terkoreksi dipimpin barang baku tekor 13,37 persen, kesehatan turun 13,16 persen, dan infrastruktur menukik 13 persen. Sementara LQ45 terpangkas 13,82 persen menjadi 508,56. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 812 saham melemah, dan 11 menguat dengan nilai transaksi sekitar Rp32 triliun.
"Investor asing mencatatkan net sell Rp2,92 triliun di sesi I dipimpin BBCA Rp1,98 triliun, BBRI Rp631 miliar, dan BMRI Rp485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp3,34 triliun dan YTD Rp88,19 triliun," tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti.
Ardy menegaskan pelemahan IHSG secara umum dipengaruhi sentimen global, dan terutama domestik. Pasar global pekan lalu didominasi kekhawatiran inflasi Amerika Serikat (AS), dan eskalasi geopolitik Timur Tengah. Data inflasi menjadi fokus utama karena menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga. Inflasi CPI AS September 3,7 persen yoy (0,6 persen mom) di atas ekspektasi pasar 3,6 persen.
Sementara PPI sebagai indikator inflasi tingkat produsen naik 1,3 persen mom, dan 6,3 persen yoy. Kenaikan PPI penting karena menunjukkan tekanan biaya produksi pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen, dan menjaga inflasi tetap tinggi, sehingga memperkuat ekspektasi The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), bahkan membuka peluang kenaikan lanjutan untuk mengendalikan inflasi.
Di sisi lain, Wall Street terutama S&P 500 anjlok 1,11 persen menjadi 7.718, dan Nasdaq minus 1,88 persen menjadi 26.692 pada Rabu lalu akibat tekanan saham teknologi/AI, lalu rebound tipis pada Kamis S&P 500 0,33 persen menjadi 7.744, Nasdaq naik 0,08 persen menjadi 26.713, dan Dow Jones menguat 1,08 persen menjadi 52.177 seiring rotasi ke saham defensif. Brent menyentuh USD110 per barel Jumat setelah Iran meningkatkan serangan sekitar Selat Hormuz.
Jumlah serangan kapal mencapai rekor tertinggi bulan ini. Arus minyak melalui selat turun menjadi 11,6 juta barrel per hari, hanya 68 persen dari baseline praperang 17,1 juta barel per hari. Setidaknya, 12 serangan kapal tercatat dalam sepekan hingga 16 Oktober. Di Jazirah Arab, Iran menargetkan pangkalan AS, hub energi, dan pelabuhan utama, dengan Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Turki, dan Yordania menghadapi potensi serangan baru.
Kelompok Houthi juga menyerang infrastruktur di Arab Saudi. Kondisi itu, menjaga harga minyak tetap tinggi yang menjadi sentimen positif untuk emiten energi, namun berisiko menambah tekanan inflasi dan depresiasi Rupiah. Sementara itu, dari domestik fokus sentimen terkonsentrasi pada pengumuman MSCI. MSCI menilai klasifikasi Emerging Market tidak tepat lagi untuk Indonesia, dan Frontier Market belum mencerminkan permasalahan yang ada, dengan sorotan pada struktur kepemilikan kurang transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi, dan reformasi belum konsisten.
Proses masih dalam tahap konsultasi dengan masukan hingga 30 April 2027, dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Pengumuman itu, lebih cepat dari ekspektasi November 2026. So, potensi outflow mencapai Rp105-132 triliun alias USD5,8-7,3 miliar jika reklasifikasi terjadi dengan BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, dan ASII paling rentan terdampak. Menariknya, sejauh ini OJK telah menjatuhkan denda total Rp2,1 triliun kepada Dian Swastatika (DSSA) Rp1,5 triliun, Barito Energy (BREN) Rp500 miliar, Petrindo Jaya (CUAN) Rp100 miliar.
Related News
IHSG Kembali Dibuka Melorot 4,31%, Terjun Bebas ke Bawah 5.000
Hukum Tegak, Kunci IHSG Rebound
IHSG Rawan Jebol 5.000, Analis Cermati Saham-Saham Berikut
Rem Darurat BEI! Begini Dampak ARB 7 Persen ke IHSG
ATL di Level 5.185, Analis Tinjau Ulang Target IHSG Akhir Tahun
IHSG Rawan Longsor, Analis Ungkap Support Kritis





