“Emiten dengan valuasi murah atau diperdagangkan di bawah nilai bukunya (PBV <1) memiliki potensi terbesar untuk melakukan aksi korporasi berupa private placement, merger, dan akuisisi. Dalam skenario ini, emiten berpotensi menjadi target akuisisi oleh perusahaan asuransi yang lebih besar maupun investor strategis yang ingin masuk ke industri asuransi Indonesia,” lanjut riset tersebut.

Sementara itu, opsi rights issue dinilai masih terbatas bagi emiten dengan PBV di bawah satu.

 “Rights issue memiliki kemungkinan lebih kecil mengingat valuasi pasar yang masih di bawah nilai buku. Namun, jika terjadi apresiasi harga saham hingga PBV berada di atas satu, maka peluang rights issue akan terbuka lebih lebar,” tulis Stockbit.

Adapun untuk emiten asuransi dengan valuasi lebih tinggi (PBV >1), Stockbit menilai ruang aksi korporasi menjadi lebih luas.

“Emiten dengan PBV di atas satu memiliki fleksibilitas lebih besar untuk melakukan rights issue, private placement, maupun merger dan akuisisi. Pada kategori ini, emiten berpotensi menjadi pihak pengakuisisi terhadap perusahaan asuransi yang lebih kecil, meskipun tetap terbuka kemungkinan menjadi target akuisisi oleh perusahaan asuransi besar atau kelompok usaha,” tulis Riset Stockbit.

Selayang Pandang Penerapan Batas Pemenuhan Modal Minimum bagi Usaha Perasuransian

Pada Juni 2023, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan rencana peningkatan batas modal minimum perusahaan asuransi dan reasuransi yang akan diterapkan bertahap mulai 2026 hingga 2028.

Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Iwan Pasila, menyatakan bahwa OJK menggunakan ekuitas sebagai basis penentuan modal minimum bagi perusahaan asuransi yang telah beroperasi.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Lembaga Penjamin, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menegaskan bahwa perusahaan asuransi yang baru berdiri akan dikenakan ketentuan modal yang lebih tinggi, yakni Rp1 triliun untuk asuransi konvensional dan Rp500 miliar untuk asuransi syariah.

Kondisi Saham Ketiga Emiten Hari Ini

Seiring sentimen tersebut, saham ketiga emiten tercatat menguat tajam pada perdagangan hari ini.

Saham YOII ditutup naik 29 poin atau 28,71% ke level Rp130. Selama sepekan tercatat menguat 22,64% naik 24 poin dari harga sebelumnya Rp106. Dalam sebulan tercatat naik 30% setara 30 poin dari harga Rp100 pada awal Desember 2025.

Selanjutnya, saham AHAP melonjak 43 poin atau 34,96% ke harga Rp166 menyentuh auto rejection atas (ARA). Dalam sebulan menguat 39,5% naik 47 poin dari harga sebelumnya Rp119 dan dalam sebulan terakhir telah melesat 61,17% setara 63 poin dari harga Rp103 pada awal Desember 2025.

Sementara saham VINS menguat 57 poin atau 34,10% ke posisi Rp232, yang juga menyentuh ARA. Selama sepekan terakhir terpantau menguat 39,76% naik 66 poin dari harga Rp166 dan dalam sebulan melesat 55,70% naik 83 poin dari harga sebelumnya Rp149 pada awal Desember 2025 lalu.