Akumulasi Rugi EMAS Membengkak di 2025, Boro-Boro Bisa Bagi Dividen
:
0
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dalam RUPS Tahunan 2025 menegaskan tidak ada pembayaran dividen karena masih mencatat saldo laba defisit
EmitenNews.com -PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) memutuskan tidak ada pembagian laba sebagai dividen setelah Perseroan masih mencatatkan saldo laba negatif di sepanjang tahun buku 2025. Keputusan tersebut disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 22 April 2026.
Manajemen EMAS dalam risalah haris RUPST yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia menyatakan kondisi laba ditahan yang masih minus menjadi pertimbangan utama tidak dilakukannya pembagian dividen kepada pemegang saham.
Selain itu, RUPS juga menyetujui perubahan jajaran direksi dan komisaris. Perseroan menerima pengunduran diri Albert Saputro, David Thomas Fowler, dan Adi Adriansyah Sjoekri sebagai Direktur, serta mengangkat Nicholas John Green, Barend Johannes Nicolaas Knoetze, dan Suryadinata Tanu sebagai Direktur baru.
Di level komisaris, Xinyu Wang dan Winato Kartono ditunjuk sebagai Komisaris, sementara Yu Gao, John Mackay McCulloch Williamson, dan Jona Widhagdo Putri menjabat Komisaris Independen hingga RUPS 2029.
Dari sisi kinerja, pendapatan Perseroan anjlok tajam sekitar 92,4% dari US$1,74 juta pada 2024 menjadi hanya US$131,96 ribu pada 2025. Penurunan ini terutama disebabkan tidak adanya kontribusi dari pihak berelasi PT Puncak Emas Tani Sejahtera, yang pada tahun sebelumnya menyumbang pendapatan dari jasa sewa alat berat.
Di sisi lain, beban usaha justru melonjak signifikan sekitar 769,7% dari US$1,09 juta menjadi US$9,48 juta. Kenaikan ini antara lain dipicu oleh biaya pengembangan komunitas sebesar US$4,41 juta serta lonjakan biaya jasa profesional dari US$675,09 ribu menjadi US$4,22 juta.
Perseroan juga mencatat beban keuangan sebesar US$14,72 juta yang terdiri dari bunga pinjaman US$11,21 juta, bunga liabilitas sewa US$1,96 juta, amortisasi biaya pinjaman US$1,03 juta, serta biaya akresi.
Akibatnya, rugi tahun berjalan meningkat sekitar 114,9% dari US$12,70 juta pada 2024 menjadi US$27,29 juta pada 2025, dengan porsi yang diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$27,49 juta.
Seiring dengan itu, akumulasi kerugian Perseroan hingga akhir 2025 membengkak menjadi US$61,49 juta, naik sekitar 80,8% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar US$34,01 juta.
Related News
Hilmi Panigoro Jual Saham MEDC Rp17 Miliar, Porsi Tersisa 0,11 Persen
AKRA Raup Laba Rp656 Miliar Ditopang Pertumbuhan Pendapatan Q1 2026
Aset WIFI Meroket 417 Persen, Kinerja 2025 Melonjak Pesat
Pendapatan Stabil, Laba IPCC Tumbuh di Kuartal I 2026
IKPM Comeback! Pendapatan dan Laba Tumbuh di Q1 2026
Kinerja Solid, SMBC Kuartal I Catat Laba Rp456 Miliar





