EmitenNews.com - Langkah strategis PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) dalam memobilisasi dana segar hingga Rp4,2 triliun melalui kombinasi rights issue dan instrumen utang merupakan sinyal transformasi masif menuju penguasaan tulang punggung infrastruktur digital nasional. Didukung oleh validasi teknokrat senior Setyanto Hantoro serta fundamental yang kokoh dengan lonjakan laba bersih mencapai 818,9% pada kuartal III 2025, perusahaan kini berada dalam posisi ofensif untuk mengonversi keunggulan modal menjadi dominasi pasar. Strategi integrasi vertikal dan adopsi teknologi Wi-Fi 7 menempatkan INET bukan sekadar sebagai penyedia jasa internet, melainkan sebagai arsitek ekosistem digital masa depan yang memiliki daya tahan operasional dan potensi pertumbuhan eksponensial.

Simfoni Kredibilitas dan Validasi Teknokratis

Keberhasilan INET dalam merancang cetak biru ekspansi skala besar ini tidak lepas dari kehadiran figur kunci yang memberikan jaminan kredibilitas di mata pasar modal. Keterlibatan Setyanto Hantoro, seorang veteran yang pernah menahkodai operator seluler terbesar di Indonesia, sebagai pemegang saham di entitas pengendali memberikan validasi bahwa peta jalan pembangunan jaringan Fiber to the Home (FTTH) milik perusahaan memiliki kelayakan teknis yang sangat tinggi. 

Sinergi ini memastikan bahwa setiap langkah anorganik yang diambil didasarkan pada pemahaman mendalam mengenai ekosistem digital dan efisiensi infrastruktur transmisi data global, sehingga risiko eksekusi dalam membangun jaringan kabel serat optik dapat diminimalisasi melalui kepemimpinan yang telah teruji dalam skala nasional.

Fundamental Sebagai Bukti Monetisasi yang Solid

Data keuangan per September 2025 menunjukkan bahwa model bisnis INET telah memasuki fase monetisasi yang sangat agresif dengan efisiensi yang luar biasa. Pendapatan bersih yang melonjak 194,7% menjadi Rp68,60 miliar diikuti oleh pertumbuhan laba bersih yang fantastis sebesar 818,9% membuktikan bahwa investasi infrastruktur pada tahun-tahun sebelumnya telah mulai memberikan imbal hasil yang nyata. 

Peningkatan Operating Profit Margin (OPM) dari 10,7% menjadi 36,8% menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola biaya operasional di tengah ekspansi jaringan yang masif. Pertumbuhan ini mengonfirmasi bahwa penambahan kilometer kabel fiber tidak hanya memperluas jangkauan, tetapi secara linier mempertebal margin keuntungan melalui optimalisasi utilisasi jaringan yang ada.

Visi Wi-Fi 7 dan Ambisi Jutaan Homepass

INET tidak sekadar mengejar volume, tetapi juga keunggulan teknologi melalui penerapan standar Wi-Fi 7 yang menawarkan kecepatan ekstrem dan latensi ultra-rendah bagi pelanggan. Dengan target pembangunan 1,5 juta homepass hingga tahun 2027, perusahaan tengah membangun "parit ekonomi" yang luas untuk membentengi posisinya dari kompetitor lama yang masih terbelenggu oleh infrastruktur warisan. 

Strategi pembangunan yang agresif ini didukung oleh pendanaan yang sangat kuat, memungkinkan perusahaan untuk melakukan penetrasi di wilayah-wilayah pertumbuhan baru dengan biaya per unit yang kompetitif. Keunggulan teknologi ini menjadi daya tarik utama bagi pelanggan high-ARPU yang membutuhkan konektivitas tanpa kompromi untuk kebutuhan ekonomi digital yang semakin kompleks.

Ketahanan Pasar dan Momentum Pasca-Right Issue

Pergerakan harga saham INET di lantai bursa mencerminkan kepercayaan investor yang sangat tebal terhadap masa depan perusahaan. Sejak melantai dengan harga perdana Rp101 pada tahun 2023, saham INET telah mengalami apresiasi nilai hingga 414% ke level Rp520 pada penutupan perdagangan 23 Januari 2026. 

Meskipun terdapat tekanan teknis pasca-periode pelaksanaan right issue, kemampuan harga untuk bertahan di atas level psikologis menunjukkan daya serap pasar yang kuat terhadap penambahan likuiditas saham. Kapitalisasi pasar yang kini menembus Rp11,25 triliun menandakan bahwa INET telah berevolusi dari perusahaan berkapitalisasi kecil menjadi penantang serius yang mulai masuk ke dalam radar investor institusi dan indeks global.

Integrasi Vertikal dan Penguasaan Rantai Pasok

Langkah anorganik melalui akuisisi mayoritas saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) merupakan bagian dari strategi integrasi vertikal untuk menjamin keberlanjutan operasional. Dengan menguasai entitas yang ahli dalam pengelolaan tenaga kerja teknis, perusahaan secara efektif mengamankan rantai pasok sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk instalasi dan pemeliharaan infrastruktur secara mandiri. 

Hal ini tidak hanya menekan biaya ketergantungan pada pihak ketiga, tetapi juga memastikan kontrol kualitas yang lebih ketat pada setiap implementasi teknologi di lapangan. Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan manajemen dalam melihat bahwa keberhasilan bisnis infrastruktur sangat bergantung pada efisiensi eksekusi di titik ujung layanan kepada pelanggan.

Optimasi Struktur Modal dan Nafas Ekspansi