Apakah INET Adalah Jawaban Atas Dahaga Infrastruktur Digital Bangsa?
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET). Dok. Suara.com
Pengelolaan kas perusahaan yang pruden terlihat dari posisi net cash dan bantalan likuiditas yang terjaga meski di tengah belanja modal yang sangat besar. Dengan total aset yang hampir berlipat ganda dalam waktu kurang dari satu tahun menjadi Rp454,59 miliar, INET menunjukkan kemampuan dalam mengonversi modal menjadi aset produktif dengan cepat.
Penggunaan instrumen surat utang senilai Rp1 triliun di samping ekuitas memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan agresif dan kesehatan neraca keuangan. Struktur modal berlapis ini memberikan "napas" yang panjang bagi INET untuk mengeksekusi proyek-proyek strategis tanpa harus mengorbankan stabilitas operasional jangka pendek.
Kesimpulan Due Diligence untuk Investor
Secara substantif, INET menawarkan proposisi nilai yang langka melalui kombinasi ketersediaan modal yang melimpah dan rekam jejak profitabilitas yang tumbuh eksponensial. Berdasarkan proyeksi laba bersih tahun 2027 sebesar Rp713,7 miliar, estimasi laba per saham (Earnings Per Share) diperkirakan akan mencapai Rp33 per lembar.
Dengan menggunakan pendekatan nilai intrinsik melalui Price-to-Earnings Ratio (P/E) konservatif sebesar 20 kali untuk sektor infrastruktur teknologi dengan pertumbuhan tinggi, nilai wajar INET diproyeksikan berada pada kisaran Rp660 per saham. Dibandingkan dengan harga pasar saat ini sebesar Rp520, saham INET masih dikategorikan sebagai undervalued dengan potensi kenaikan (upside) yang cukup signifikan. Fokus perusahaan pada efisiensi operasional dan penguasaan pasar Wi-Fi 7 menciptakan ruang bagi pertumbuhan berkelanjutan, menjadikan INET sebagai pilihan strategis bagi pemilik modal yang mencari eksposur pada sektor infrastruktur digital dengan profil risiko yang terukur.
Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi.
Related News
Mampukah Rekor IHSG 9.174 Bertahan dari Tekanan Gravitasi Rupiah?
Bukan Sekadar Yogurt, Kanzler Jadi Lokomotif Utama Pertumbuhan CMRY
Masihkah Telkom Indonesia Menjadi Safe Haven di Era Danantara?
Dilema Valuasi NEST: Menguji Resiliensi Model Bisnis Tanpa Utang
Akankah Narasi Besar PGEO Berlabuh di Realitas Eksekusi Operasional?
Menakar Prospek CBDK: Ekspansi Strategis PIK 2 dan Navigasi Makro





