EmitenNews.com - Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan akhir pekan. Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik serta kekhawatiran eskalasi militer di kawasan Timur Tengah yang mengancam jalur pasokan energi global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (30/10/2026), harga minyak mentah Brent naik di posisi di atas USD115 per barel. Angka tersebut mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir, sementara harga minyak mentah acuan Amerika Serikat bergerak mendekati level USD103 per barel atau level tertinggi dalam enam minggu.

Kenaikan harga minyak ini didorong oleh kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dapat melanjutkan serangan militer terhadap Iran. Kekhawatiran tersebut menguat setelah muncul laporan bahwa seorang komandan senior telah memberi pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai potensi opsi militer.

Presiden Donald Trump sebelumnya berulang kali memperingatkan bahwa serangan udara terhadap Teheran dapat dilanjutkan menyusul pelaksanaan pemilihan paruh waktu. Di sisi lain, pejabat Iran mengonfirmasi bahwa pihak Washington telah berupaya membuka jalur komunikasi melalui surat dari Wakil Presiden AS JD Vance untuk memulai kembali negosiasi perdamaian.

Dinamika konflik tersebut berdampak langsung pada pasar energi global. Patokan harga minyak AS tercatat telah melonjak lebih dari 10 persen sepanjang bulan Oktober 2026 seiring berlanjutnya konflik AS-Iran serta eskalasi bentrokan yang melibatkan Arab Saudi dan pasukan Houthi.

Selain itu, ancaman terhadap jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz tetap tinggi akibat serangan terhadap kapal tanker yang masih berlanjut. Kendati demikian, laporan menyebutkan bahwa ekspor minyak mentah regional mulai berangsur pulih mendekati level sebelum perang karena para produsen tetap mengangkut kargo melalui jalur strategis tersebut secara terbatas.

Lonjakan harga minyak mentah global ini menjadi perhatian serius bagi perekonomian Indonesia. Sebagai negara importir netto minyak, kenaikan harga komoditas energi dunia berpotensi memberikan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta biaya subsidi energi domestik.(*)