EmitenNews.com - PT Aracord Nusantara Group Tbk (RONY) membeberkan strategi pemulihan kinerja dan arah bisnis baru dalam paparan publik Perseroan. Manajemen menjelaskan, kerugian yang tercatat hingga September 2025 merupakan konsekuensi dari proses transformasi pasca pengambilalihan.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, RONY membukukan rugi sekitar Rp4 miliar. Manajemen menyampaikan bahwa kondisi tersebut terjadi seiring langkah restrukturisasi menyeluruh yang dilakukan sepanjang 2025.

“Di tahun 2025 Perseroan melakukan pengambilalihan, sehingga fokus kami lebih banyak pada proses administrasi wajib, pembentukan manajemen baru, serta penyusunan model bisnis baru. Proses transformasi ini memang membutuhkan waktu,” ujar manajemen RONY dalam laporan hasil paparan publik yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia, Senin, 5 Januari 2026.

Meski masih mencatat kerugian, manajemen menegaskan neraca aset Perseroan justru menunjukkan pertumbuhan, terutama pada sisi kas. Hal ini sejalan dengan kebutuhan pendanaan untuk pengembangan usaha, di mana sejumlah biaya dikeluarkan guna mendukung arah bisnis baru Perseroan.

Manajemen juga mengungkapkan bahwa RONY telah mulai mengamankan sejumlah kontrak dan optimistis kinerja Perseroan akan mulai menunjukkan perkembangan pada 2026. Sejalan dengan transformasi tersebut, RONY mengembangkan kerja sama di bidang pemeliharaan dan pengoperasian truk listrik (electric vehicle/EV truck). Namun, bisnis Perseroan tidak berhenti pada jasa semata.

Ke depan, RONY juga akan menyediakan unit kendaraan listrik serta charger untuk mendukung operasional EV truck. Perseroan menilai potensi pasar EV di Indonesia masih sangat besar, dengan proyeksi pertumbuhan yang dinilai menarik seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi dan transisi energi.

Selain itu, RONY juga menjajaki usaha kontrak pembangkit listrik berbasis teknologi gasifikasi. Dalam skema ini, material batu bara dimasukkan ke mesin khusus untuk menghasilkan gas yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik.

Model bisnis baru Perseroan difokuskan pada pengembangan energi terbarukan berbasis listrik, khususnya untuk sektor pertambangan. Manajemen menilai masih banyak perusahaan tambang di Indonesia yang bergantung pada diesel, sehingga peluang konversi ke kendaraan listrik dinilai sangat terbuka.

“Rencana kami adalah mengubah kendaraan tambang yang masih menggunakan diesel menjadi listrik. Dengan banyaknya perusahaan tambang di Indonesia, kami optimistis dapat memperoleh basis klien yang luas,” jelas manajemen.

Pada 2026, melalui anak usaha PT Aracord Logistik Nusantara, Perseroan menargetkan penambahan aset armada hingga 100 unit truk, sebagai bagian dari ekspansi bisnis EV dan logistik berbasis energi bersih.