Bank BNI (BBNI) Pede Kenaikan Giro Wajib Minimum Tak Pengaruhi Kinerja DPK
EmitenNews.com – Bank Indonesia akan memberlakukan kebijakan pengurangan likuiditas atau tapering dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) bagi perbankan mulai 1 Maret 2022. Melihat kebijakan tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menilai GWM tidak akan mengganggu kapasitas perseroan untuk menjalankan fungsi intermediasi.
"Lagi pula, BNI merupakan salah satu bank yang pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK)-nya kuat, dengan dominasi dana murah selama pandemi, sehingga likuiditasnya selalu tersedia dengan pricing yang reliabel," ujar Sekretaris Perusahaan BNI, Mucharom, Ahad (23/1/2022).
Menurutnya kenaikan GWM juga dapat menjadi salah satu strategi menghadapi dampak tapering the Fed karena akan memposisikan tingkat inflasi ke level yang sehat. Terkait suku bunga acuan, lanjut Mucharom, perseroan memperkirakan suku bunga acuan akan dipertahankan konstan.
"Kenaikan suku bunga acuan mungkin terjadi di pertengahan tahun sebesar 50 bps. Hal ini didasari oleh kebijakan bank sentral yang seimbang antara stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi," ucapnya.
Kendati demikian, menurutnya, perseroan juga menyadari jika dilakukan terlalu cepat baik dari sisi timing dan magnitude-nya, maka akan beresiko bagi momentum pertumbuhan ekonomi. Terlebih, dari sisi timing kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
"Kedua adalah kenaikan PPN sebesar satu persen mulai April dan diperkirakan terasa dampaknya ke inflasi satu hingga dua bulan berikutnya, sehingga pada Juni, rasanya momentum kenaikan suku bunga acuan menjadi lebih masuk akal," ucapnya.
Mucharom juga menjelaskan tingkat suku bunga acuan tentu selalu dihubungkan tingkat suku bunga kredit. Namun, perseroan dapat memastikan tingkat suku bunga kredit BNI akan tetap akomodatif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi tahun ini.
"Suku bunga kredit terbilang rendah dikarenakan pertumbuhan dana murah BNI seiring dengan optimalisasi digital banking," ucapnya.
Menurutnya perseroan juga dibekali dengan sistem credit scoring lebih baik, sehingga dapat menyalurkan kredit lebih kompetitif sambil tetap menjaga kualitasnya. "Dalam rencana bisnis 2022 BNI tetap optimistis mendorong fungsi intermediasi tetap lebih baik dari rata-rata industri perbankan," ucapnya.
Related News
MORA Siapkan Buyback Rp1 Triliun, Serap Saham Publik yang Tolak Merger
WGSH Siap Tebar 1 Miliar Saham Bonus, Recording Date 7 April
Obligasi dan Sukuk RATU Catat Kelebihan Permintaan 6,8 Kali
Cisadane (CSRA) Catat Lompatan Penjualan, Laba Ikut Terkerek 25 Persen
Alih Kendali Internal, FAPA Pindah Tangankan Saham Senilai Rp18,77T!
Resmi Merger, MORA Kini Bernaung di Grup Sinarmas!





