EmitenNews.com - Bear market adalah fase penurunan harga tidak terhindarkan dalam siklus pasar kripto. Bagi banyak investor, kondisi itu memicu panik, dan keputusan bisa merugikan. Padahal, investor berpengalaman justru melihatnya sebagai kesempatan. 

Berikut 5 tips strategi wajib kamu lakukan untuk bertahan di tengah bear market dari tim Pintu Academy! Apa Itu Bear Market? Bear market suatu kondisi pasar kala harga aset turun secara signifikan, dan berlangsung dalam periode relatif panjang. ”Berbeda dari koreksi jangka pendek, bear market biasanya berlangsung berbulan-bulan hingga lebih dari setahun dan disertai sentimen negatif meluas,” tegas Ari Budi Santoso, Blockchain & Crypto Content Specialist PINTU.

Secara umum, bear market biasanya terjadi setelah aset mencetak all time hight (ATH) kemudian disusul koreksi pasar karena telah mengalami reli panjang. Tekanan jual diperkuat faktor lain seperti kondisi makroekonomi, kebijakan moneter, atau ketegangan geopolitik. Secara historis, pasar kripto dikenal memiliki siklus 4 tahunan sehubungan dengan fase bull, dan bear market. Siklus itu, berpusat pada peristiwa bitcoin halving, berkurangnya reward diterima penambang Bitcoin 50 persen setiap empat tahun sekali.

ATH baru cenderung terbentuk sekitar 2 hingga 3 tahun setelah Bitcoin mencapai bottom siklus sebelumnya. Pada rentang itu, pasar biasanya mengalami fase akumulasi atau pergerakan sideways kerap dimanfaatkan investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi. So, berikut sejumlah strategi yang relevan untuk diterapkan dalam menghadapi bear market menurut tim Pintu Academy.

Pertama, sabar dalam mententukan aset dan target harga beli. Saat harga turun lebih dari 20 persen, kebanyakan investor baru masuk kripto langsung mengalami kepanikan, dan menjual seluruh aset. Investor telah melewati beberapa fase bear market kerap memiliki cara pandang berbeda. Pemodal melihat bear market sebagai fase di mana aset-aset undervalue dapat diakumulasi.

Dengan demikian, ada hal-hal bisa dilakukan investor yaitu membuat watchlist aset dengan fundamental bagus. Lakukan itu, saat pasar mengalami penurunan maupun dalam fase tenang. Lihat bagaimana respons pergerakan harga menyikapi penurunan harga Bitcoin. Aset yang mampu bertahan relatif lebih baik dari Bitcoin saat pasar melemah biasanya merupakan kandidat akumulasi menarik.

Lalu, tetapkan target harga beli berdasar analisis yang sudah dibuat. Salah satu pendekatan yaitu mengidentifikasi area support historis sebagai zona pembelian aset, sehingga keputusan beli sudah terencana sebelum harga benar-benar sampai di sana.

Kedua, proteksi modal. Prioritas utama di bear market adalah menjaga modal agar tidak tergerus dan mengambil keputusan didorong bias yang menganggap penurunan aset adalah titik harga terendah sehingga mengalokasikan seluruh modalnya dalam satu transaksi. Strategi paling terbukti efektif untuk investor jangka panjang di kondisi ini dollar-cost averaging (DCA), membeli aset secara rutin dalam jumlah tetap, terlepas dari harga pasar saat itu.

Misalnya, seorang investor memiliki modal Rp12 juta pada awal 2022, dan ingin mengalokasikan ke Bitcoin. Investor A (All In), menginvestasikan seluruh Rp12 juta sekaligus saat harga BTC berada di sekitar USD47 ribu. Ketika harga turun signifikan hingga akhir 2022, nilai portofolio menyusut menjadi sekitar Rp3,9 juta, atau mengalami penurunan sekitar 67 persen.

Sedang investor B (DCA), mengalokasikan Rp1 juta per bulan selama 12 bulan. Dengan strategi itu, harga rata-rata pembelian berada di kisaran USD28 ribu. Akibatnya, penurunan nilai portofolio relatif lebih terkendali, dan ia mengakumulasi lebih banyak BTC untuk potensi pemulihan pada siklus berikutnya.