BEI Bongkar 50 Saham HSC, Kepemilikan Tertinggi Tembus 99,99%
:
0
BEI Bongkar 50 Saham HSC, Kepemilikan Tertinggi Tembus 99,99%. Dok. EmitenNews
EmitenNews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memublikasikan daftar saham yang masuk dalam kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham ekstrem oleh pihak tertentu melalui laman resmi IDX. Berdasarkan dokumen pengumuman yang diakses pada Rabu (15/7/2026) pukul 01.00 WIB, otoritas bursa mengidentifikasi sedikitnya 50 emiten yang memiliki struktur kepemilikan terkonsentrasi di atas 92%. Jumlah ini merupakan gabungan dari daftar pemantauan sebelumnya serta emiten yang baru terdeteksi.
Langkah publikasi ini merupakan bagian dari kebijakan preventif otoritas untuk menjaga stabilitas pasar serta meminimalisasi risiko asimetri informasi yang dapat merugikan investor retail akibat distorsi pembentukan harga (price discovery).
"Sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kita lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien terus kita hadirkan di Bursa Efek Indonesia," tegas Direktur BEI, Jeffrey, dalam Konferensi Pers di Gedung BEI, Selasa (14/7/2026).
Penyaringan Berbasis Price Impact Ratio dan Velocity
Dalam keterangannya, Jeffrey menjelaskan bahwa BEI telah melakukan tinjauan mendalam serta evaluasi terhadap kriteria dan faktor pemicu (trigger factors) pengawasan HSC. Ke depan, fokus penyaringan akan diperketat terutama bagi emiten yang memiliki kapitalisasi pasar (market cap) di atas Rp10 triliun namun memiliki price impact ratio yang tinggi.
Indikasi kerawanan tersebut diukur dengan melihat korelasi antara perubahan harga saham terhadap velocity (tingkat perputaran saham). Nilai velocity diperoleh dari rata-rata volume transaksi harian dibandingkan dengan jumlah saham keseluruhan yang dimiliki oleh publik (free float).
"Artinya saham-saham yang aktivitas volume transaksinya rendah tentu akan menghasilkan velocity yang rendah. Dengan velocity yang rendah tetapi dengan perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio yang tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya," jelas Jeffrey.
Secara mikrostruktur pasar, porsi kepemilikan publik yang sangat mini membuat pasokan saham yang aktif diperdagangkan (tradable shares) menjadi sangat langka. Kondisi tersebut menyebabkan fluktuasi harga yang masif dapat terjadi hanya dengan volume transaksi yang minimal, sehingga meningkatkan risiko likuiditas bagi pelaku pasar.
Daftar 50 Emiten Teridentifikasi HSC (Urutan Tertinggi ke Terendah)
Berdasarkan metodologi penentuan konsentrasi kepemilikan struktur wujud saham Scrip dan Scripless yang dirilis di situs resmi bursa, berikut adalah daftar lengkap 50 emiten yang masuk dalam pemantauan ketat:
- PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) - 99,99%
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII) - 99,96%
- PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) - 99,95%
- PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) - 99,95%
- PT Golden Flower Tbk (POLU) - 99,94%
- PT Soho Global Health Tbk (SOHO) - 99,93%
- PT Bank Permata Tbk (BNLI) - 99,92%
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) - 99,91%
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) - 99,85%
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY) - 99,84%
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) - 99,78%
- PT FAP Agri Tbk (FAPA) - 99,77%
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH) - 99,77%
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) - 99,58%
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) - 99,42%
- PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) - 99,41%
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) - 99,24%
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) - 99,21%
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) - 99,14%
- PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI) - 98,90%
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) - 98,62%
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) - 98,50%
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING) - 98,40%
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) - 98,35%
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) - 98,06%
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) - 98,03%
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) - 97,75%
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) - 97,62%
- PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) - 97,35%
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) - 97,31%
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) - 97,21%
- PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) - 97,02%
- PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) - 96,70%
- PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) - 96,09%
- PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) - 95,94%
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) - 95,82%
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) - 95,76%
- PT Bank Mega Tbk (MEGA) - 95,68%
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) - 95,65%
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) - 95,35%
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) - 95,08%
- PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) - 95,00%
- PT Siantar Top Tbk (STTP) - 94,95%
- PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) - 94,79%
- PT Kota Satu Properti Tbk (SATU) - 94,27%
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) - 94,10%
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) - 93,83%
- PT Mahkota Group Tbk (MGRO) - 93,76%
- PT MD Entertainment Tbk (FILM) - 92,98%
- PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) - 92,71%
Sebelumnya LUCY atau PT Lima Dua Lima Tiga Tbk juga pernah masuk ke dalam daftar saham HSC hingga statusnya dicabut dari radar pada 29 Juni 2026 dan diumumkan oleh BEI melalui pengumumannya pada 2 Juli 2026 lalu. Dengan begitu total emiten yang pernah diungkap oleh BEI masuk dalam kategori High Shareholding Concentration menjadi 51 perusahaan terbuka.
Mekanisme Evaluasi: Siklus Berkala dan Insidental
Mengenai implementasi teknis di lapangan, proses screening terhadap emiten berskala jumbo dengan kapitalisasi di atas Rp10 triliun dijadwalkan berlangsung secara berkala setiap tiga bulan sekali. Siklus penerbitan daftar saham HSC ini dipastikan akan berjalan beriringan dengan linimasa evaluasi indeks reguler bursa.
Related News
Tambah Kriteria Price Impact Ratio Saham HSC, Lanjut Reformasi BEI
Terindikasi Judol, Bank Tutup Hubungan Usaha 51,2 Ribu Nasabah
Umumkan Price Impact Ratio, BEI Revisi Metodologi Penentuan Saham HSC
BEI Tambah 37 Saham ke Daftar HSC, Total Jadi 51 Emiten!
BEI Kaji Perombakan Aturan Rights Issue Saham Papan Akselerasi & FCA
BEI Beber Penyebab Likuiditas Bursa Menurun, Bukan Soal Pidato Prabowo





