EmitenNews.com - Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan ambisi besar untuk memperluas basis investor domestik maupun menarik perhatian investor asing. Bursa Efek Indonesia dalam beberapa waktu terakhir semakin agresif melakukan berbagai kampanye investasi, mulai dari edukasi pasar modal kepada generasi muda, ekspansi galeri investasi, promosi di berbagai daerah, hingga forum internasional untuk meningkatkan daya tarik pasar saham Indonesia di mata global.

Secara angka, strategi ini memang terlihat berhasil. Jumlah investor terus bertambah dan pasar modal Indonesia terus dipromosikan sebagai salah satu pasar dengan potensi pertumbuhan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Namun di tengah berbagai kampanye tersebut, muncul pertanyaan yang semakin sering dibicarakan pelaku pasar.  

Mengapa BEI terlihat sangat sibuk mencari investor baru, tetapi persoalan fundamental yang  selama ini justru merusak kepercayaan investor belum benar-benar dibenahi? Sebab dalam  dunia investasi, masalah utama sebuah bursa sebenarnya bukan sekadar bagaimana menambah jumlah investor, melainkan bagaimana menjaga agar pasar tetap dipercaya.

Dan dalam setahun terakhir, justru kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia terlihat  mengalami tekanan yang semakin besar. IHSG beberapa kali mengalami tekanan tajam,  volatilitas pasar meningkat, dana asing keluar masuk dengan agresif, dan berbagai kontroversi emiten terus bermunculan.

Dalam kondisi seperti ini, promosi besar-besaran untuk menarik investor baru justru mulai terlihat seperti upaya mempercantik permukaan tanpa benar-benar memperbaiki fondasi pasar itu sendiri. Padahal sejarah pasar modal global sudah berkali-kali menunjukkan bahwa investor tidak datang karena iklan atau seminar semata. Investor datang ketika mereka percaya terhadap kualitas pasar, kepastian regulasi, dan kredibilitas institusi yang mengawasi bursa tersebut. 

Jumlah Investor Naik, Kepercayaan Pasar Justru Turun 

Selama beberapa tahun terakhir, jumlah investor pasar modal Indonesia memang tumbuh  sangat pesat. Pemerintah dan BEI berkali-kali menjadikan pertumbuhan Single Investor  Identification (SID) sebagai indikator keberhasilan pendalaman pasar keuangan nasional. Semakin banyak masyarakat yang membuka rekening saham dianggap sebagai sinyal positif  bahwa investasi mulai diterima lebih luas oleh publik.

Namun masalahnya, pertumbuhan jumlah investor tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pasar. Dalam beberapa periode terakhir, justru muncul fenomena di mana jumlah investor terus naik, tetapi kepercayaan terhadap pasar terlihat melemah. Banyak investor ritel mulai mengeluhkan tingginya volatilitas pasar, pergerakan saham yang dianggap tidak wajar, hingga berbagai kontroversi emiten yang menimbulkan keraguan terhadap kualitas pengawasan bursa. 

Situasi ini menjadi semakin sensitif karena sebagian besar investor baru merupakan investor  ritel dengan pengalaman investasi yang masih terbatas. Ketika mereka masuk ke pasar dalam  kondisi fondasi kepercayaan sedang melemah, maka risiko kepanikan akan jauh lebih besar saat pasar mengalami tekanan.

Akibatnya, pasar menjadi semakin mudah bergejolak karena basis investornya belum cukup kuat menghadapi volatilitas tinggi. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, fokus utama yang lebih sering terlihat justru mengenai bagaimana terus menambah jumlah investor baru. Narasi mengenai jutaan investor baru terus dikedepankan seolah menjadi pencapaian utama pasar modal Indonesia. Padahal dalam dunia investasi, kualitas pasar jauh lebih penting dibanding sekadar kuantitas investor.