EmitenNews.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan menyeluruh mengenai kontrak pendek sewa kapal antara PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) dengan dua pelanggannya, PT Guna Harapan Lestari (GHL) dan PT Lima Srikandi Jaya (LSJ).
Jackson Indrawan Corporate Secretary TIRT mengungkapkan bahwa jangka waktu kontrak dengan GHL berlangsung sejak 17 Oktober 2025 hingga 31 Desember 2025, sedangkan kontrak dengan LSJ berlangsung sejak 17 Oktober 2025 hingga 16 Desember 2025.
TIRT mengakui bahwa kedua kontrak tersebut bersifat jangka pendek. Namun, perusahaan optimistis keberlangsungan pendapatan tetap terjaga. Keyakinan ini didukung oleh peluang perpanjangan kontrak dengan GHL, optimalisasi penggunaan kapal melalui kerja sama dengan LSJ selama masa pengurusan Izin Usaha Jasa Pertambangan (IUJP), serta rencana pengalihan kontrak dari LSJ dan PT Mitra Kemakmuran Line setelah IUJP diterbitkan.
" Skema pengalihan ini memungkinkan TIRT bekerja sama langsung dengan pengguna jasa seperti PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) dan PT Marina Bara Lestari (MBL).,," jawab Jackson ke BEI yang dikutip Minggu (23/11).
Menurutnya saat ini seluruh armada TIRT tercatat fully occupied, membuat operasional fokus pada pemenuhan kontrak yang sedang berjalan. Meski demikian, perusahaan menegaskan tengah merencanakan perluasan usaha melalui penambahan armada, yang diharapkan membuka peluang kontrak baru dari pelanggan pihak ketiga dan memperluas diversifikasi pendapatan.
Terkait kinerja keuangan, TIRT menjelaskan bahwa sekalipun pendapatan Oktober 2025 meningkat signifikan, Perseroan masih mencatat kerugian kotor, usaha, dan bersih. Hal ini disebabkan kegiatan operasional baru dimulai pada Oktober 2025.
Manajemen meyakini kinerja akan berbalik positif pada periode mendatang seiring peningkatan utilisasi armada dan rencana ekspansi.
TIRT juga tengah mengkaji penambahan armada dan aset untuk memperbesar kapasitas bisnis. Langkah tersebut diharapkan memperkuat posisi perusahaan di industri pelayaran yang dinilai memiliki potensi besar berkat kebutuhan logistik domestik Indonesia sebagai negara maritim.
Related News
Atasi Kendala Overcapacity, SMGR Pacu Ekspor dan Transformasi Bisnis
Saham Produsen GT Man (RICY) Top Loser, Direksi Jual Habis Kepemilikan
Usai Jual Aset Rp65M, Lancartama Sejati (TAMA) Ungkap Diakuisisi DBS
WSKT Catat Kontrak Baru Rp3,1 Triliun, Kebut Bandara Timor Leste
RATU Bagi Dividen Rp122,17 Miliar, 46 Persen Laba 2025
Aktor hingga Keponakan Luhut Kompak Mundur usai RAAM Merugi Rp34M





