EmitenNews.com - Pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi nasional untuk memicu pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif. Menghadapi tantangan global, pemerintah membidik target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun 2027.

Langkah strategis tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keynote speech pada acara SUAR Forum 2026 di Kabupaten Tangerang, Jumat (21/8).

"Semester I ini kita tumbuh 5,45%, dan ini adalah pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden meminta kita mendorong supaya mendekati 6% di akhir tahun," ujar Menko Airlangga.

Guna mengejar target jangka panjang pada 2027, pemerintah menggenjot enam mesin pertumbuhan baru. Strategi ini mencakup akselerasi hilirisasi yang telah mencatat 26 proyek groundbreaking, pelaksanaan swasembada energi B50 per 1 Juli 2026, pengelolaan bank emas senilai Rp360 triliun (179 ton emas), pengelolaan devisa ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia, pengembangan digitalisasi dan AI, serta penguatan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Laporan Kemenko Ekon mencatat kondisi fiskal Indonesia masih solid. Pendapatan negara tumbuh 21,3% dan belanja negara tumbuh 18,2%, dengan tingkat defisit anggaran yang terjaga rendah di angka 0,91% terhadap PDB. Untuk rancangan anggaran 2027, pendapatan negara direncanakan sebesar Rp3.426 triliun dan belanja negara Rp4.097,2 triliun, dengan defisit sekitar 2,4% terhadap PDB.

Di sektor pembiayaan masyarakat dan produktivitas SDM, pemerintah menurunkan suku bunga pembiayaan PNM Mekaar bagi pelaku usaha perempuan dari 18% menjadi 8% untuk pinjaman Rp0 hingga Rp15 juta. Selain itu, pemerintah juga mendorong penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) serta program magang bagi 150 ribu lulusan dan pelatihan vokasional hingga 250 ribu peserta.

Dari sisi diplomasi perdagangan internasional, Indonesia terus memperluas akses pasar dengan meratifikasi 25 perjanjian dagang, sementara 13 perjanjian lainnya masih dalam tahap perundingan. Proses aksesi Indonesia menuju keanggotaan OECD juga terus berjalan dengan progres mencapai 75%. Langkah-langkah ini diambil untuk memperkuat posisi ekspor nasional di tengah dinamika geopolitik global.(*)