EmitenNews.com -Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), menetapkan target kinerja yang optimis untuk tahun buku 2026. Perseroan membidik volume pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik kelapa sawit internal mencapai 700.000 ton hingga akhir tahun ini.

Target tersebut mencerminkan lonjakan signifikan sebesar 40% dibandingkan dengan realisasi pengolahan pada tahun 2025 yang tercatat sebesar 500.000 ton. Direksi Perseroan mengungkapkan bahwa hingga Maret 2026, capaian produksi TBS perseroan telah mengamankan sekitar 18% dari total target tahunan, menempatkan CSRA berada di jalur yang tepat (on track) untuk memenuhi proyeksi akhir tahun.

Untuk mendukung target agresif tersebut, CSRA telah menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp100 miliar pada tahun ini. Dana tersebut dialokasikan secara strategis untuk program penanaman kembali (replanting) serta perluasan lahan (landbank).

Dalam hal ekspansi, perseroan terus mengandalkan strategi pertumbuhan organik melalui akuisisi taktis. CSRA membidik akuisisi perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi lahan potensial namun belum melakukan penanaman. Strategi ini dinilai efektif untuk memperkuat struktur landbank perseroan dengan biaya yang lebih terukur, sekaligus memastikan keberlanjutan produksi jangka panjang.

Melalui kombinasi peningkatan kapasitas pengolahan dan ekspansi lahan ini, CSRA menargetkan total penjualan mampu menembus angka Rp2 triliun pada akhir tahun 2026, yang diharapkan bakal turut mengerek margin laba bersih perseroan.

BACA JUGA: Cisadane (CSRA) Catat Lompatan Penjualan, Laba Ikut Terkerek 25 Persen

Mengenai prospek industri Crude Palm Oil (CPO) di tahun 2026, Manajemen CSRA, Seman, mengakui bahwa dalam 1-2 tahun terakhir industri sawit nasional sempat menghadapi situasi dilematis di bawah regulasi pemerintahan saat ini, terutama terkait isu kawasan hutan.

Namun, CSRA berada pada posisi yang sangat diuntungkan karena seluruh operasional dan posisi lahan perseroan saat ini berada di Area Penggunaan Lain (APL) atau di luar kawasan hutan. Status klir ini meminimalkan risiko regulasi dan memberikan kepastian operasional yang tinggi bagi perseroan. "Industri sawit pasca-Covid-19 akan terus diuntungkan dalam beberapa tahun ke depan, didorong oleh efek samping dari gejolak internasional dan dinamika geopolitik global yang menjaga tren permintaan komoditas tetap kuat," ujar Seman.

Dengan fundamental lahan yang aman, strategi akuisisi yang pruden, serta momentum pasar global yang mendukung, PT Cisadane Sawit Raya Tbk optimis mampu menjaga tren pertumbuhan kinerja keuangan dan operasional yang solid sepanjang tahun 2026.

Sedangkan pada laporan tahunannya, Perseroan memandang prospek usaha tetap berada pada jalur yang positif, didukung oleh kondisi makroekonomi nasional yang relatif stabil serta peluang pertumbuhan industri kelapa sawit yang masih terbuka. Berdasarkan proyeksi berbagai lembaga internasional, perekonomian Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan tumbuh pada kisaran 5,0%–5,4%, dengan proyeksi IMF sebesar 5,1% dan target pemerintah mencapai sekitar 5,4%. Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, serta kesinambungan kebijakan fiskal dan moneter yang mendukung stabilitas ekonomi. Di tingkat global, pertumbuhan ekonomi dunia juga diproyeksikan tetap stabil di kisaran 3,3% pada tahun 2026, mencerminkan kondisi permintaan global yang masih cukup resilien meskipun diwarnai ketidakpastian geopolitik dan perdagangan internasional.