EmitenNews.com - Rencana pengetatan aturan free float (saham beredar di publik) minimal 15 persen oleh regulator pasar modal telah menciptakan spekulasi besar mengenai potensi banjir suplai saham dari emiten berkapitalisasi pasar jumbo. Logika pasar sederhana menyatakan bahwa para pengendali saham harus melepas kepemilikannya ke publik untuk memenuhi kuota tersebut, yang berisiko menekan harga saham. Mengingat kapitalisasi pasar BREN yang menembus angka ribuan triliun rupiah, pemenuhan aturan ini dapat memicu gelombang arus dana keluar yang masif dari saham lain.

Namun, bedah data terbaru terhadap PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menunjukkan sebuah anomali strategi yang menarik. Di saat posisi likuiditas sahamnya masih berada di bawah ambang batas regulasi, manajemen BREN justru mengambil langkah berani dengan mengalokasikan dana internal sebesar Rp2 triliun untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback), sebuah langkah yang secara teoretis justru memperketat likuiditas alih-alih melonggarkannya.

Mengupas Realitas "Zona Merah" Likuiditas

Banyak investor ritel mungkin terkecoh dengan angka kepemilikan publik yang tertera pada aplikasi sekuritas, namun perhitungan berdasarkan dokumen legal Laporan Bulanan Registrasi Pemegang Efek per 31 Desember 2025 memberikan gambaran yang jauh lebih presisi. Dari total 133,78 miliar lembar saham yang tercatat, porsi masyarakat scripless (tanpa warkat) di bawah 5% memang tercatat sekitar 16,59 miliar lembar. 

Namun, angka ini belum sepenuhnya bersih karena masih mengandung kepemilikan langsung pihak pengendali dan saham tresuri yang harus dikeluarkan dari perhitungan free float murni. Setelah dikurangi kepemilikan langsung Bapak Prajogo Pangestu sebesar 138 juta lembar dan sisa saham tresuri sebesar 6 juta lembar, free float bersih BREN sebenarnya hanya tersisa 16,45 miliar lembar atau setara dengan 12,30%. Angka ini mengonfirmasi bahwa BREN masih berada di "zona merah" kepatuhan jika batas 15% diberlakukan secara ketat.

Kalkulasi Gap dan Antisipasi Pasar

Posisi 12,30% tersebut menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar bagi emiten. Untuk mencapai target ideal 15%, BREN secara matematis membutuhkan porsi saham publik sekitar 20,06 miliar lembar. Artinya, terdapat defisit atau gap sekitar 3,61 miliar lembar saham. Jika dikonversi dengan harga pasar saat ini, pasar menghadapi potensi guyuran saham senilai puluhan triliun rupiah yang idealnya harus disuplai ke pasar. 

Dalam kondisi normal, pasar akan mengantisipasi aksi korporasi berupa Penawaran Terbatas (Private Placement) atau Penawaran Sekunder (Secondary Offering) untuk menutup celah ini. Skenario seperti ini biasanya memicu kekhawatiran investor akan adanya tekanan jual masif (supply shock) yang bisa menggerus harga pasar dalam jangka pendek demi memenuhi regulasi bursa.

Sinyal Awal dari "Laci" Tresuri

Memasuki awal tahun 2026, pelaku pasar sempat menanti apakah manajemen akan mulai mendistribusikan stok saham mereka secara bertahap. Namun, dokumen Laporan Pengalihan Kembali Saham Hasil Buyback tertanggal 15 Januari 2026 justru memberikan jawaban nihil. Laporan tersebut mengonfirmasi bahwa tidak ada selembar pun saham hasil buyback sebelumnya yang dijual atau dialihkan kembali ke pasar.