Bursa Asia Menyala, IHSG Menguat Terbatas

Petugas kebersihan mengelap layar lebar yang menampilkan pergerakan IHSG di Main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara teknikal mulai terbatas di area resistance. Sementara indicator stochastic mulai berada di level overbought. Itu mengindikasikan potensi koreksi.
Oleh sebab itu, Reliance Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. IHSG bergerak dengan support level 7.655, dan resistance pada level 7.755. Saham memiliki potensi naik beberapa hari mendatang antara lain JSMR, BBTN, PGEO, TPMA, dan ADRO.
Sementara itu, mayoritas indeks utama bursa Amerika Serikat (AS) ditutup di zona hijau. Sementara pasar akan cenderung menanti rilis data inflasi AS, FOMC meeting, dan debat pertama capres AS Kamala Harris dan Donald Trump pada Selasa malam.
Pagi ini, bursa Asia telah mengorbit zona hijau. Indeks Nikkei 225 menguat 0,27 persen, dan Indeks Kospi menanjak 0,19 persen. Sementara pasar akan mencermati perkembangan ekspor-impor China pada Agustus 2024 dengan perkiraan konsensus tumbuh melambat.
Menyudahi perdagangan Senin, 9 September 2024, IHSG minus 0,25 persen menjadi 7.702. Koreksi dipimpin saham-saham sektor energy 0,62 persen, dan healthcare menukik 0,97 persen. Sementara itu, asing membukukan net buy Rp42,52 miliar di pasar regular. Saham paling banyak dibeli investor asing seperti: BBNI, ADRO, BMRI, BBCA, dan BRIS.
Katalis pada IHSG didorong pelemahan pada bursa regional. Inflasi China pada Agustus 2024 tumbuh dibanding bulan sebelumnya. Namun, masih di bawah perkiraan konsensus sebesar 0,4 persen mom/0,6 persen yoy. Sementara kepercayaan konsumen Indonesia masih tumbuh optimis 124.4 pada Agustus 2024. (*)
Related News

Maanfaatkan Pasar Mamin, ITPC Meksiko Fasilitasi Business Matching

Malaysia Cabut Bea Masuk Anti Dumping Serat Selulosa Asal Indonesia

PLN Pertahankan Status Siaga Kelistrikan Hingga 11 April

Kemenperin Rilis Peta Jalan Hilirisasi untuk Pacu Swasembada Aspal

Investasi Tembus Rp206 Triliun, Industri Agro Serap 9,3 Juta Naker

Diskon Biaya Listrik 50 Persen Berakhir, Maret Berlaku Tarif Normal