EmitenNews.com - Bursa Wall Street libur pada perdagangan akhir pekan lalu, sementara mayoritas indeks bursa global ditutup menguat. Faktor positif memengaruhi penguatan indeks itu antara lain ada harapan the Fed berpotensi menunda kenaikan suku bunga setelah data nonfarm payrolls Juni 2026 di bawah estimasi.

Selain itu, koreksi lanjutan harga minyak mentah meredam kekhawatiran penguatan laju inflasi akibat kenaikan harga energi. Harga emas melejit 2,3 persen menjadi USD4.182 per troy oz pekan lalu, lompatan mingguan pertama sejak Mei 2026, dipicu peluang the Fed menaikkan suku bunga September 2026 mendatang menipis.

Pekan ini, investor akan mencermati data FOMC minutes untuk mengungkap pandangan pejabat the Fed yang terbelah mengenai kebijakan moneter. Lalu, diikuti rilis data ISM Services PMI, existing home sales, dan neraca perdagangan Amerika Serikat (AS). ECB akan merilis akun kebijakan moneter. Investor akan mencermati data ekonomi Jepang, Tiongkok, dan pertemuan OPEC.

Investor domestik akan mencermati data cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, penjualan ritel dan penjualan sepeda motor, serta penjualan mobil (10/7). Koreksi harga minyak, dan rebound harga emas diperkirakan masih menjadi faktor positif pekan ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) kaji penghapusan 3 kriteria papan pemantauan khusus.

Itu terutama soal free float (6), likuditas rendah (7) dan saham suspensi (11). Lalu, memperlebar batas autorejection menjadi bertingkat. Yaitu untuk saham Rp1-100 (Rp1), untuk saham Rp10-200 (Rp35), untuk saham Rp200-5000 (25 persen), dan saham di atas Rp5000 (20 persen). Evaluasi itu, untuk mendukung mekanisme perdagangan lebih transparan, dan efisien.

Sepanjang pekan ini, IHSG berpotensi menguji level psikologis 6.000. Berdasar data tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Astra (ASII), Dian Swastatika (DSSA), Avia Brands (AVIA), Trimegah Persada (NCKL), Merdeka Gold (EMAS), dan Elunusa (ELSA). (*)