EmitenNews.com—Belakangan ini marak terjadi perilaku investor ritel memburu saham-saham yang dibeli dengan harga jauh lebih tinggi dibanding harga beli investor kakap.


Misalnya, Paulus Totok Lusida membeli sebanyak 1.795.580.600 lembar saham atau setara dengan 11,79 persen porsi kepemilikan pada PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (IDX: CARS) pada tanggal 6 April 2022 hanya dengan harga Rp5 per lembar saham.


Oleh investor ritel di pasar reguler saham emiten perdagangan kendaraan bermotor itu sempat dihargai Rp140 per lembar pada tanggal 16 September 2022.


Kesempatan itu tidak di sia siakan oleh Paulus Totok Lusida dengan menjual secara bertahap CARS sehingga dalam waktu lima bulan dapat menghasilkan keuntungan sebesar 2.200 persen.


Jelasnya, dalam keterangan resmi emiten perdagangan kendaraan bermotor yang beroperasi di Jawa Tengah dan DIY Jogyakarta, yang diunggah pada laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/9/2022), bahwa Paulus telah menjual sebanyak 23,5 juta CARS di harga Rp115 - 125 per lembar saham pada tanggal 13 September  2022.


Serupa, PT Energia Prima Nusantara (EPN), anak usaha PT United Tractor Tbk (UNTR) pada tanggal 8 Agustus 2022 mengumumkan akan membeli sebanyak 632.801.893 lembar saham atau setara dengan 21,61 persen porsi saham PT Arkaro Hidyro Tbk (IDX: ARKO) dengan nilai Rp176,5 miliar milik Acei Singapore Holding Prinvate Ltd. Dengan kata lain, anak usaha UNTR mematok harga beli Rp279 per lembar.


Sedangkan investor ritel di pasar reguler sejak pengumuman itu memburu ARKO hingga naik menyentuh Rp 835 per lembar pada tanggal 22 September 2022. Dengan kata lain, investor telah memberikan potensi keuntungan 199 persen dalam waktu satu bulan kepada Grup Astra itu.


Terbaru, Anthony Salim, Agoes Projosasmito, dan PT Bakrie Capital Indonesia akan menebus 200 miliar saham baru seri C PT Bumi Resources Tbk (IDX: BUMI) dengan harga pelaksanaan Rp120 per lembar pada tanggal 18 Oktober 2022.


Kabar itu oleh Investor ritel seperti menjadi angin segar untuk memburu BUMI.


Di pasar reguler, BUMI ditutup pada level Rp169 per lembar dengan nilai transaksi Rp583 miliar pada Kamis (13/10/2022) sore ini.


Menurut Mantan Direktur Utama Bursa Efek Jakarta, Hasan Zen Mahmud bahwa fenomena itu membuat pasar saham atau bursa layaknya gelanggang tempat "orang pintar" makan "orang bodoh".


“Yang celaka adalah investor ritel, yang berbondong-bondong membeli di harga pucuk. Bagai laron terpikat sinar lampu. Sinar lampu itu adalah kelihaian bandar dengan segala macam trik. Laron-laron itu, patah sayap, mati bergelimpangan,” papar dia.


Ia menyoroti nasib investor ritel yang membeli BUMI pada harga pucuk Rp 246 pada perdagangan tanggal 5 September 2022, yang jika mengacu pada harga penutupan BUMI sore ini telah mengalami potensi kerugian lebih dari 52 persen.


Ia melanjutkan, nasib berbeda dengan 3 calon investor kakap BUMI dengan harga penutupan sore ini  sudah mendapat potensial keuntungan Rp 49 per saham.


“Keuntungan 41,7 persen, sebelum menyetor. Angka 169 itu, tentu masih punya peluang besar naik. Terutama bila menggunakan pahlawan pasar modal yang bergelar bandar,” tandas dia.