EmitenNews.com - Cadangan devisa Jepang mengalami penurunan sebesar USD 18,40 miliar pada akhir Juni 2026. Data Trading Economics menunjukkan posisi cadangan devisa negara tersebut melandai ke angka USD 1,287 triliun, dari bulan sebelumnya yang mencapai USD 1,306 triliun pada Mei 2026. Penurunan ini sekaligus melanjutkan tren kontraksi tajam yang terjadi sejak bulan lalu.

Bagi pasar keuangan regional dan investor di Indonesia, pergerakan cadangan devisa sekutu ekonomi utama seperti Jepang merupakan indikator penting. Fluktuasi ini kerap memengaruhi sentimen pasar obligasi dan stabilitas nilai tukar di kawasan Asia Tenggara, termasuk rupiah, mengingat eratnya hubungan dagang dan investasi bilateral antara Indonesia dan Jepang.

Berdasarkan rincian komponennya, total cadangan devisa Jepang tercatat sebesar USD 1,091 triliun. Komponen tersebut terdiri dari sekuritas senilai USD 928,58 miliar dan simpanan berbentuk deposito sebesar USD 161,93 miliar.

Trading Economics melaporkan rincian alokasi deposito tersebut dalam rilisnya, "Dari deposito tersebut, USD 161,50 miliar disimpan di bank sentral asing dan Bank for International Settlements (BIS), sementara deposito di bank-bank yang berkantor pusat di Jepang berjumlah USD 405 juta dan di bank-bank asing berjumlah USD 25 juta."

Di sisi lain, posisi cadangan Dana Moneter Internasional (IMF) Jepang dilaporkan berada pada angka USD 11,31 miliar. Sementara itu, kepemilikan Hak Penarikan Khusus atau Special Drawing Rights (SDR) dari IMF bernilai USD 60,39 miliar, dan nilai cadangan emas Jepang mencapai total USD 109,51 miliar.

Laporan resmi tersebut juga menutup rincian dengan mencatat komponen sisa aset lainnya. Aset cadangan lainnya yang dimiliki Jepang berjumlah USD 15,76 miliar, sedangkan untuk kepemilikan aset mata uang asing lainnya bertengger di angka USD 34,12 miliar pada penutupan bulan Juni 2026.(*)