EmitenNews - Pemerintah Cina berterimakasih produsen mobil listrik (EV) terkemuka AS, Tesla, mau berinvestasi dan memilih negara itu sebagai pabrikan pertamanya di Asia. Ironisnya, Beijing melarang pegawai negeri, karyawan BUMN dan personel militer menggunakan mobil canggih itu.


Menurut sumber The Wall Street Journal, alasan pemerintah Cina melarang personel militer dan pemerintah menggunakan Tesla terkait dengan potensi risiko keamanan yang ditimbulkan oleh pengumpulan data pembuat mobil listrik yang dilengkapi kecerdasan buatan (artificial intelligence).


Keputusan itu diambil setelah mereka mempelajari "tinjauan keamanan" terkait kemampuan kamera eksterior Tesla yang didirancang terus merekam jejak kendaraan. Pemerintah China khawatir gambar-gambar itu, termasuk data lokasi kendaraan dan daftar kontak ponsel yang disinkronkan dengan sistem internal mobil, dapat dikirim kembali ke AS. Apalagi militer dan BUMN, termasuk industri strategis yang sangat sensitif.


Tesla adalah perusahaan terbaru yang terjebak dalam perseteruan perdagangan antara AS dan China, saat kedua negara bertemu minggu ini untuk melanjutkan negosiasi perdagangan pascasuksesi dan terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS yang baru.


Meskipun negara itu merangkul Tesla dan manufaktur kendaraan listriknya, Presiden China Xi Jinping berusaha menjauhkan negaranya dari teknologi asing untuk kepentingan mempromosikan perusahaan domestik. Keputusan terhadap Tesla tampaknya mencerminkan pembatasan Cina terhadap teknologi asing yang dianggap berpotensi menimbulkan risiko keamanan.


Kondisi ini tentu dapat mempersulit pertumbuhan Tesla di China, karena kebijakan pemerintah Xi akan menjadi sinyal yang bagi seluruh industri lain apa yang harus mereka ikuti. Tesla mengalami tahun pertama yang menguntungkan pada tahun 2020 berkat popularitas perusahaan milik Elon Musk yang bergaung hingga ke negara itu. China adalah pasar terbesar untuk kendaraan listrik di dunia, dan Tesla adalah penjual EV teratas.


Tesla pertama kali mengonfirmasi bahwa sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah China untuk membuka pabrik di sana pada musim panas 2017. Demi membujuk masuknya perusahaan ini, China bahkan bersedia melonggarkan aturannya terkait indusstri asing untuk memberi Tesla lebih banyak kelonggaran. Tesla bisa bisa membangun pabrik sendiri tanpa bermitra dengan industri lokal. Padahal pabrikan besar lainnya, seperti GM dan Ford, yang lebih dulu masuk sudah memproduksi mobil di China di bawah aturan usaha patungan.


Tesla yang baru-baru ini menutup kantor humasnya belum memberikan komentar terkait kebijakan Beijing. Tapi dalam pernyataan sebelumnya tentang pengumpulan data, mereka mengklaim kebijakan perlindungan privasi Tesla telah sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku di China.


“Tesla sangat mementingkan perlindungan privasi pengguna,” kata mereka. Lagi pula, katanya, kamera dalam mobil tidak dihidupkan untuk semua kendaraan Tesla di China.(*)