Jelang Delisting! EDGE Raup Kredit Rp11,24T Untuk Ekspansi Data Center
Ilustrasi Pusat Data. Foto: Istimewa.
EmitenNews.com - Di tengah rencana perubahan status menjadi perusahaan privat, PT Indointernet Tbk. (EDGE) justru mengamankan fasilitas pembiayaan jumbo untuk ekspansi bisnis pusat data. Perseroan memperoleh fasilitas kredit sebesar US$665 juta atau sekitar Rp11,24 triliun dengan asumsi kurs Rp16.900 per dolar AS.
Corporate Secretary Indonet, Donauly Elena Situmorang dalam keterangan tertulisnya pada Senin (16/3/2026), menjelaskan fasilitas pinjaman tersebut diperoleh melalui anak usaha perseroan, PT Digital Gayana Ekagrata (DGE), yang bertindak sebagai debitur. Sementara EDGE bersama PT Ekagrata Data Gemilang (EDG) berperan sebagai penjamin dalam transaksi tersebut.
Perjanjian fasilitas kredit diteken pada 12 Maret 2026 dengan tenor lima tahun sejak penarikan awal. Skema bunganya menggunakan Term SOFR ditambah margin 2,60 persen.
“Pendanaan ini akan digunakan sepenuhnya untuk mendukung pembangunan proyek pusat data milik DGE,” ringkas Donauly.
Donauly juga menyebut kebutuhan infrastruktur digital yang terus meningkat menjadi pendorong utama ekspansi tersebut.
Konsorsium lembaga keuangan global turut ambil bagian dalam pembiayaan ini, antara lain PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank BNP Paribas Indonesia, Clifford Capital Credit Solutions Pte. Ltd., Credit Agricole Corporate and Investment Bank, PT Bank DBS Indonesia, Oversea-Chinese Banking Corporation Limited, Mizuho Bank Ltd., serta PT Bank SMBC Indonesia Tbk.
Secara nilai, transaksi ini tergolong transaksi material karena melebihi 50 persen ekuitas perseroan yang tercatat sebesar Rp1,83 triliun per 31 Desember 2025. Meski demikian, sesuai ketentuan POJK 17, pinjaman dari lembaga keuangan tidak mewajibkan penggunaan penilai independen maupun persetujuan RUPS.
“Tidak terdapat dampak material terhadap kondisi keuangan Perseroan, selain kewajiban pembayaran bunga dan pokok pinjaman secara periodik oleh DGE,” tulis Donauly.
Pengumuman kredit jumbo ini muncul setelah perdagangan saham EDGE lebih dulu disuspensi oleh Bursa Efek Indonesia sejak Selasa (10/2/2026) menyusul permohonan resmi perseroan untuk melakukan voluntary delisting atau perubahan status dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup.
Sebelum suspensi, saham EDGE terakhir diperdagangkan pada level Rp4.790 per saham dengan porsi kepemilikan publik sekitar 7,9 persen atau 159.598.500 saham, yang setara nilai sekitar Rp764 miliar.
Sejalan dengan rencana delisting tersebut, perseroan juga diwajibkan melakukan pembelian kembali seluruh saham publik, sehingga skema, harga, dan jadwal buyback kini menjadi fokus perhatian investor.
Related News
Pendapatan Turun Beban Melonjak, Laba 2025 SMRA Anjlok 44 Persen
Saham Cuma Turun 6 Persen, MBMA Jor-Joran Buyback Rp1,7 Triliun!
Emiten TP Rachmat (TAPG) Dapat THR Dividen Rp450M dari USTP
IPCM dan CMNT Lanjutkan Kerja Sama Jasa Perkapalan di Terminal Bayah
Harganya Drop 75 Persen, Bursa Lanjut Bekukan Saham UDNG
BEI Buka Suspensi ALKA, Usai Ngacir 200 Persen Kini Sahamnya ARB!





