EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat 1,92 persen menjadi 6.037. Volume dan nilai transaksi cenderung meningkat dibanding pekan lalu. Secara teknikal, IHSG telah breakout level 6.000, ditutup di atas MA5, MA10, dan MA20.

Selanjutnya, IHSG diprediksi berpotensi menguji level resistance 6.080-6.120 sepanjang perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Namun, perlu diwaspadai sentimen negatif kenaikan harga minyak dapat membebani penguatan indeks.

Sentimen positif dari S&P Global Ratings menegaskan peringkat kredit jangka panjang Indonesia BBB, dan jangka pendek A-2. Prospek peringkat jangka panjang masih dipertahankan Stabil. Lembaga itu, menilai pelemahan posisi fiskal, dan eskternal Indonesia bersifat sementara.

Posisi Indonesia berpotensi membaik seiring kenaikan harga komoditas, dan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan negara. Prospek stabil mencerminkan harapan kalau penerimaan ekspor akan meningkat seiring kenaikan harga komoditas. Prospek stabil itu, akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar saham domestik.

Dengan demikian, kembali mendorong adanya arus masuk modal asing, dan menjadi katalis positif bagi rebound lanjutan IHSG. S&P memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,1 persen pada 2026, sebelum mencatat pertumbuhan rata-rata 4,9 persen per tahun sepanjang 2026–2029.

Prospek itu, ditopang belanja fiskal, program hilirisasi, dan penguatan pengelolaan sektor sumber daya alam. Namun, S&P juga mengingatkan perubahan kebijakan berlangsung cepat, dan ketidakpastian implementasi berpotensi memengaruhi kepercayaan investor, menekan pasar keuangan, dan nilai tukar Rupiah.

Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham berikut. Yaitu, Bank BNI (BBNI), Bank BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Telekomunikasi Indonesia alias Telkom (TLKM), dan Astra International (ASII). (*)