EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin kompak ditutup melemah. Itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap kapal pelintas selat Hormuz, dan memicu kenaikan harga minyak mentah. Trump menyebut blokade untuk mencegah kapal atau pelanggan Iran.

Trump mengklaim AS akan dikenal sebagai penjaga Selat Hormuz, dan sebagai penegak keadilan. Oleh karena itu, AS akan menerima penggantian biaya 20 persen dari nilai seluruh kargo yang dikirim, untuk menutupi segala biaya yang diperlukan dalam menjalankan tugas menjaga keselamatan, dan keamanan di wilayah dunia yang sangat rawan tersebut.

Usai postingan tersebut, harga minyak jenis WTI naik 9,4 persen menjadi USD78 per barel, dan Brent menguat 9,6 persen menjadi USD83 per barel. Koreksi indeks bursa Wall Street seiring lonjakan harga minyak mentah diprediksi menjadi sentimen negatif pasar. Peringkat utang indonesia dengan outlook stabil menambah sentimen positif.

So, indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat. Sepanjang perdagangan hari ini, Selasa, 14 Juli 2026, IHSG akan bergerak menyusuri kisaran support 5.900-5.760, dan resistance 6.175-6.315. menilik data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menjagokan saham berikut.

Yaitu, Bank Central Asia (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Tabungan Negara (BBTN), dan Alamtrie Indonesia (ADRO). (*)