Defisit AirAsia (CMPP) Melejit ke Rp16,5T di Kuartal I-2025
:
0
Deretan pesawat milik Air Asia (CMPP)
EmitenNews.com - AirAsia Indonesia (CMPP) hingga kuartal I-2025 membukukan pertumbuhan pendapatan 14,1 persen secara tahunan menjadi Rp1,989 triliun. Namun beban usaha bengkak 13,7 persen secara tahunan menjadi Rp2,429 triliun. Sehingga, CMPP menderita rugi usaha sedalam Rp439,52 miliar. Sedangkan rugi sebelum pajak penghasilan menyentuh Rp710,85 miliar.
Direktur Utama CMPP, Veranita Yosephine Sinaga melaporkan rugi bersih Rp712,47 miliar pada kuartal I 2025. Akibatnya, akumulasi rugi atau defisit menukik sedalam 4,5 persen dibanding akhir tahun 2024 menyentuh Rp16,551 triliun pada akhir Maret 2025.
Pada gilirannya, tekor modal atau defisiensi modal kian dalam 7,5 persen dibanding akhir tahun 2024 menyentuh Rp10,154 triliun pada akhir Maret 2025.
Manajemen CMPP juga mengakui total liabilitas jangka pendek konsolidasiannya melampaui total aset lancar konsolidasiannya sebesar Rp9,842 triliun pada akhir Maret 2025.
Guna mengantisipasi terjadinya dampak yang merugikan kinerja keuangan Grup, manajemen Grup mengimplementasikan rencana-rencana seperti melanjutkan langkah-langkah efisiensi biaya untuk pemulihan bisnis dan mampu menjaga keberlangsungan bisnis.
Kemudian , trus bekerja sama dengan Grup AirAsia untuk menegosiasikan kembali biaya dan merestrukturisasi liabilitas yang belum dibayar dengan vendor terutama dengan lessor pesawat, dan vendor penting lainnya.
Lalu, Diskusi dan negosiasi yang berkelanjutan dengan seluruh vendor penting sedang berjalan dalam rangka menangguhkan pembayaran dengan jadwal yang beragam
Kemudian, Optimalisasi kapasitas pesawat dengan pemilihan rute dan fokus pada rute yang menguntungkan dan rute dengan faktor muatan yang lebih baik, termasuk membuka kembali rute internasional dan domestik untuk meningkatkan destinasi pariwisata.
Selain itu, Grup berencana untuk membuka rute domestik dan internasional baru yang akan memberikan nilai tambah terhadap bisnis serta meningkatkan pangsa pasar,Tetap fokus terhadap peluang bisnis lain seperti bisnis kargo, Optimalisasi pendapatan ancillary
Selanjutnya, secara proaktif mencari peluang pendanaan eksternal untuk meningkatkan permodalan guna meningkatkan kemampuan finansial dan kelincahan operasional.
Related News
Saham GOTO Kian Terperosok, Antrean Jual Mengular
Usai Diakuisisi AEP, Saham Emiten Sawit dan Karet Ini Mendadak Ambruk
Dua Saham Lepas dari Suspensi, Satu Nonstop ARA Berjilid-jilid
YUPI Bagi Dividen Interim Bulan Ini, Telisik Besarannya
Penjualan COAL Q1 2025 Anjlok, Merosot hingga 50,2 Persen
Pendapatan Melorot, Laba MBSS Anjlok 71 Persen Kuartal I 2026





