Demutualisasi BEI Tak Ada Perang Kepentingan Danantara?
:
0
Pandu Sjahrir CIO Danantara. Photo/Rizki EmitenNews
EmitenNews.com -Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah bersiap menghadapi babak baru dalam sejarah pasar modal tanah air. CIO Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan sinyal kuat mengenai percepatan rencana demutualisasi, sebuah langkah transformasi yang akan mengubah wajah bursa dari organisasi milik anggota menjadi entitas komersial yang berorientasi laba (for-profit).
Langkah strategis ini diproyeksikan tidak hanya akan meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di kancah global, tetapi juga melibatkan peran sentral Danantara sebagai pengelola investasi negara.
Menuju Model Bursa Global
Pandu menjelaskan bahwa demutualisasi akan mengubah struktur kepemilikan BEI yang saat ini dikuasai oleh perusahaan sekuritas (anggota bursa). Ke depan, BEI berpotensi menjadi perusahaan terbuka (Tbk) yang sahamnya dapat dimiliki oleh publik maupun investor institusi, mengikuti jejak sukses bursa global seperti HKEX (Hong Kong) dan SGX (Singapura).
"Pemisahan peran akan menjadi sangat jelas. OJK tetap sebagai regulator yang menjaga aturan main, sementara pemegang saham—termasuk Danantara di masa depan—fokus pada pengembangan nilai perusahaan dan profitabilitas," ujar Pandu dalam penjelasannya.
Danantara: "Anchor" Baru Pasar Modal
Salah satu poin krusial dalam transformasi ini adalah keterlibatan Danantara. Seperti halnya Temasek di Singapura, Danantara diproyeksikan menjadi pemegang saham utama di bursa hasil demutualisasi tersebut.
Selain berperan dalam struktur kepemilikan, Danantara telah mulai bergerak sebagai partisipan pasar aktif. Sejak akhir Desember lalu, lembaga ini mulai menyuntikkan dana ke pasar modal melalui Manajer Investasi (MI) eksternal dengan kriteria yang ketat yaitu Fundamental yang kuat, Valuasi yang masuk akal dan Likuiditas tinggi.
Perang Melawan "Saham Gorengan"
Dalam kesempatan yang sama, Pandu juga memberikan kritik tajam terhadap fenomena "saham gorengan" yang sering merugikan investor ritel. Ia menegaskan bahwa Danantara akan menjauh dari aset-aset yang memiliki rasio harga terhadap laba (Price to Earning Ratio) yang tidak masuk akal.
Related News
Ingat Ferdy Sambo? Dapat Beasiswa Ia Kini Kuliah S2 Dari dalam Lapas
Bulan Depan Negara Terima Rp49 Triliun, Asalnya dari Rekening Koruptor
Nadiem Merasa Tuntutan Hukumnya Rekor, Lebih Besar dari Teroris
Ini Gaya Purbaya dan Bahlil Jawab Protes China Soal Iklim Investasi RI
Siapkan Berkas 1.597 Halaman, Jaksa Tuntut Nadiem 18 Tahun Penjara
Dukung Asta Cita Prabowo, PTPP Bangun Sekolah Garuda di Belitung Timur





