Di Balik Aksi Rights Issue BABY, Ada Biaya Peluang yang Dikorbankan?
Di Balik Aksi Rights Issue BABY, Ada Biaya Peluang yang Dikorbankan? Dok. IDX Channel.
EmitenNews.com - Emiten ritel perlengkapan barang anak, PT Multitrend Indo Tbk (BABY), belakangan ini menyuguhkan sebuah teka-teki menarik bagi para pelaku pasar. Berdasarkan laporan prospektus yang disampaikan pada tanggal 13 Februari 2026, perusahaan akan menawarkan saham baru seharga Rp590 per lembar, padahal rata-rata harga pasarnya dalam 90 hari terakhir hanya berada di kisaran Rp363. Selisih yang mencapai 62,53% ini memicu munculnya opini "Tidak Wajar" dari penilai independen dalam laporan mereka. Kendati demikian, jika perseroan melihat di balik angka yang tampak tidak masuk akal tersebut, tersimpan sebuah narasi konsolidasi bisnis yang cukup rapi di dalam ekosistem Kanmo Group. Manajemen tampaknya sedang berupaya menyatukan kekuatan ritel dan distribusi ke dalam satu atap.
Integrasi Vertikal: Menyatukan Hulu dan Hilir
Langkah utama yang mendasari aksi korporasi ini adalah rencana BABY untuk mengakuisisi saudaranya sendiri, PT Emway Globalindo (EGI). Dalam strategi bisnis, langkah ini disebut sebagai Backward Vertical Integration atau integrasi vertikal ke belakang, yakni kondisi ketika sebuah perusahaan ritel mengambil alih pemasok atau distributornya. Selama ini, BABY yang mengelola gerai seperti Mothercare dan ELC harus berbagi margin keuntungan dengan pihak distributor.
Dengan memiliki EGI, BABY sedang berupaya menghilangkan fenomena double marginalization, kondisi di mana setiap level dalam rantai pasok mengambil keuntungan masing-masing yang sering kali membuat harga akhir menjadi kurang kompetitif atau margin perusahaan menipis. Data menunjukkan bahwa per Oktober 2025, BABY mencatatkan rugi bersih Rp23,02 miliar, sementara EGI di sisi lain justru mampu mencetak laba bersih sebesar Rp36,74 miliar. Masuknya laba dari EGI ini diharapkan dapat menjadi penopang kinerja keuangan grup secara keseluruhan melalui pertumbuhan anorganik atau pertumbuhan yang dicapai lewat akuisisi.
Kekuatan Lisensi di Balik Aset Tak Berwujud
Jika menilik lebih dalam, daya tarik utama EGI bukan terletak pada aset fisik seperti gudang atau armada logistik, melainkan pada Intangible Assets atau aset tak berwujud berupa hak distribusi eksklusif. EGI memegang lisensi distribusi untuk merek-merek global ternama seperti LEGO, Hasbro, Mattel (Barbie), dan Disney.
Dalam kerangka analisis strategi, aset ini merupakan sebuah moat atau parit pertahanan bisnis yang solid karena memiliki karakteristik unik yang sulit ditiru oleh pesaing dalam waktu singkat. Meski demikian, prospektus juga secara objektif mengingatkan adanya risiko ketergantungan pada pemilik merek tersebut. Keberlangsungan bisnis gabungan ini nantinya akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen dalam menjaga hubungan baik dan memperpanjang kontrak dengan para prinsipal global tersebut, karena tanpa lisensi ini, nilai strategis akuisisi bisa menyusut secara signifikan.
Paradoks Harga dan Pesan di Balik Angka Rp590
Penetapan harga Rights Issue atau aksi penambahan modal dengan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru sebesar Rp590 per lembar memang menjadi sorotan utama. Secara kualitatif, fenomena ini dapat dijelaskan melalui Signaling Theory, di mana manajemen sedang mengirimkan sinyal kepada pasar mengenai keyakinan mereka terhadap nilai fundamental perusahaan di masa depan.
Dengan mematok harga di atas harga pasar saat ini, pengendali utama yakni Blooming Years Pte. Ltd. (BY), menunjukkan komitmennya untuk tetap menyerap seluruh hak mereka meskipun secara hitungan jangka pendek terlihat mahal. Strategi ini juga memiliki efek samping yang cukup adil bagi pemegang saham publik. Potensi dilusi atau penurunan persentase kepemilikan saham akibat penerbitan saham baru menjadi relatif kecil, yakni maksimal 8,36%. Jika harga dipatok lebih rendah, perusahaan harus menerbitkan lebih banyak saham untuk mendapatkan jumlah dana yang sama, yang justru akan "mengiris" porsi saham publik lebih dalam lagi.
Pergeseran Struktur Modal dan Pertaruhan Utang
Di dalam rencana aksi korporasi ini, ekspansi tidak sepenuhnya menggunakan modal internal, melainkan melibatkan strategi leverage atau penggunaan utang untuk meningkatkan potensi imbal hasil. BABY membiayai sebagian akuisisi ini melalui pinjaman dari Bank CIMB Niaga, yang secara otomatis mengubah profil risiko keuangan mereka. Proforma atau estimasi laporan keuangan setelah transaksi menunjukkan bahwa rasio utang terhadap ekuitas (Debt-to-Equity Ratio/DER) perusahaan akan naik dari 0,63x menjadi 1,04x.
Angka ini menandakan bahwa kini liabilitas atau kewajiban perusahaan sudah sedikit melampaui total modal yang dimiliki. Manajemen kini memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa arus kas dari operasional EGI dan BABY cukup kuat untuk membayar beban bunga bank nantinya. Perubahan ini menandai transformasi BABY dari perusahaan ritel yang sebelumnya memiliki utang rendah menjadi sebuah entitas yang lebih agresif dalam struktur permodalannya demi mengejar integrasi bisnis yang lebih luas.
Menakar Biaya Peluang di Masa Depan
Langkah besar BABY dalam mengakuisisi EGI pada akhirnya bermuara pada pertanyaan mendasar mengenai alokasi modal yang efektif. Dengan memilih untuk mengambil pinjaman dari Bank CIMB Niaga demi mendanai sisa akuisisi, manajemen BABY sedang menghadapi sebuah biaya peluang yang cukup signifikan. Dana pinjaman tersebut sejatinya bisa dialokasikan untuk pembenahan efisiensi operasional gerai ritel mereka yang tengah mengalami tekanan kerugian hingga Rp23 miliar.
Namun, manajemen justru memilih jalur ekspansi anorganik, sebuah pertaruhan untuk "menambal" kerugian ritel dengan laba distribusi dari EGI yang mencapai Rp36,7 miliar. Risiko biaya peluang ini menjadi semakin nyata ketika kita menghitung beban bunga bank. Jika laba yang dihasilkan EGI di masa depan ternyata habis hanya untuk membayar bunga pinjaman, maka nilai tambah yang diharapkan bagi pemegang saham publik akan hilang begitu saja.
Keputusan manajemen untuk tetap mengambil langkah ini meskipun KJPP Kusnanto & Rekan (KR) memberikan opini "Tidak Wajar" juga merupakan sebuah pesan strategis yang penuh risiko. Secara teknis, harga pelaksanaan Rp590 dianggap tidak wajar karena selisihnya terlalu jauh dari harga pasar (Rp363), sebuah anomali yang jarang terjadi dalam aksi korporasi. Dengan mengabaikan batasan kewajaran harga tersebut dan tetap melanjutkan skema inbreng, manajemen seolah sedang memberikan sinyal bahwa mereka lebih menghargai konsolidasi ekosistem Kanmo Group daripada persepsi valuasi pasar saat ini.
Related News
Biaya Mahal Loyalitas Pelanggan di Tahun Kuda Api, MPPA Rela Rugi?
Filosofi Kuda Api: Apa yang Terjadi di Sektor Otomotif dan Logistik?
Top Klasemen IHSG Berubah, Tapi Asing Tetap Pilih Pemain Lama?
Aturan Main Algoritma MSCI yang Bikin Saham Terdepak dan Masuk Liga
Krisis GCG Indonesia Di Balik Anomali Pasar Pasca Vonis MSCI-Moody's
UNVR New Era: Kas Melimpah, Tapi Apakah Bisnis Jadi Lebih Kuat?





