Dibuang 3, Sisa 1 Anak Emas Prajogo di MSCI Global Standard Index
:
0
Dibuang 3, Sisa 1 Anak Emas Prajogo di MSCI Global Standard Index. Dok. EmitenNews
EmitenNews.com - PT Barito Pacific Tbk (BRPT) baru saja merilis laporan keuangan untuk paruh pertama tahun 2026. Laporan ini menarik untuk dibedah, terutama di tengah dinamika pasar yang sedang menyoroti grup perusahaan milik Prajogo Pangestu. Pada penyesuaian ulang daftar saham atau rebalancing bulan Mei 2026 lalu, tiga saham dari grup ini, yakni BREN, TPIA, dan CUAN, harus keluar dari daftar indeks saham acuan global, MSCI Global Standard Index.
Praktis, BRPT kini menjadi satu-satunya wakil yang bertahan. Pada pengumuman MSCI di review indeks Agustus, Barito Pacific (BRPT) masih berstatus penghuni sah Global Standard Index. Berdasarkan hasil evaluasi indeks LQ45 BEI terbaru pun, BRPT masih mejeng di sana sebagai salah satu konstituen likuid.
Pasca penyesuaian indeks MSCI pada 12 Agustus 2026 waktu Eropa lalu, kinerja BRPT di semester pertama ini menunjukkan sebuah keunikan, yaitu total pendapatan yang melesat tajam, tetapi laba bersihnya justru tampak kembali ke tingkat normal. Berikut ulasan mendalam pada kinerja keuangan emiten anak emas Prajogo Pangestu Semester I-2026.
Kinerja Finansial: Lonjakan Omzet dan Normalisasi Laba
Berdasarkan laporan keuangan hingga 30 Juni 2026, total pendapatan BRPT mencapai 5,69 miliar dolar AS. Angka ini melonjak sangat tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang sebesar 3,23 miliar dolar AS. Namun, meskipun total penjualan melesat tajam, laba bersih yang menjadi hak pemilik perusahaan induk justru terlihat turun menjadi 190,48 juta dolar AS, dibandingkan 539,82 juta dolar AS pada paruh pertama tahun 2025.
Penurunan angka laba bersih ini sebetulnya bukan pertanda bahwa operasional bisnis perusahaan sedang melemah. Hal ini lebih disebabkan oleh efek perbandingan dengan tahun lalu yang angkanya terlampau tinggi karena adanya keuntungan yang sifatnya tidak rutin atau hanya terjadi satu kali (one-off gain).
Pada semester pertama 2025, perusahaan mencatatkan keuntungan tak terduga dalam jumlah besar, yakni 1,86 miliar dolar AS. Sebaliknya, pada paruh pertama tahun 2026 ini, pos tersebut justru mencatatkan kerugian sebesar 85,19 juta dolar AS.
Peningkatan aktivitas bisnis perusahaan tentu diikuti dengan naiknya biaya. Biaya langsung untuk memproduksi barang alias beban pokok pendapatan naik menjadi 4,47 miliar dolar AS dari sebelumnya 2,97 miliar dolar AS.
Selain itu, beban umum dan administrasi tercatat sebesar 129,65 juta dolar AS, serta beban penyusutan nilai aset naik menjadi 223,15 juta dolar AS. Naiknya beban penyusutan ini adalah hal yang wajar terjadi karena perusahaan mulai mencatatkan operasional dari aset-aset barunya yang baru selesai dibangun atau diakuisisi.
Sumber Pendapatan dan Diversifikasi Bisnis BRPT
Related News
TOWR Rambah Bisnis Fiber Optik, Klien XL dan Indosat Jadi Kunci
5 Saham RI Didepak Indeks Syariah FTSE, Aliran Modal Pindah ke Nvidia
Emiten Operator Bus Tije Dicap HSC, Digembok BEI, Kena Notasi C Pula
Bisnis Sewa Genset Meroket 1.574%, Begini Rapor Perdana BACH Pasca-IPO
Adu Taktik 4 Big Banks, Siapa Paling Jago Cetak Cuan?
Lonjakan Pendapatan BNBR 45% Belum Cukup Lepas dari Tekanan Rugi





