EmitenNews.com - Fenomena di balik turunnya tren harga saham PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) akhirnya menemukan titik terang. Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam reviu Februari 2026 secara resmi menghapus CLEO dari daftar indeks Global Small Cap. Keputusan ini menjadi pukulan telak atas tren harga saham yang telah runtuh sebesar 44,47% dalam satu tahun terakhir. Penghapusan ini bukanlah penyebab tunggal, melainkan konsekuensi logis dari de-rating valuasi yang berkepanjangan. Bagi investor institusi, CLEO bukan lagi primadona pertumbuhan atau growth stock, melainkan studi kasus nyata tentang risiko ekspansi yang menggerus profitabilitas, sebagaimana terkonfirmasi oleh data fundamental kuartal III-2025.

Dislokasi Fundamental: Volume Tumbuh tapi Laba Rapuh

Data Laporan Keuangan per 30 September 2025 memaparkan akar masalah yang membuat investor besar angkat kaki. Di atas kertas, CLEO masih mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 5,8% menjadi Rp2,09 triliun, didorong oleh pembukaan pabrik-pabrik baru. Namun, kualitas pertumbuhan ini dipertanyakan karena CLEO dianggap gagal mengalirkan profitabilitas hingga ke bottom line. Laba bersih justru terkoreksi tajam sebesar 9,36% menjadi Rp305 miliar. Fenomena ini, yang dikenal sebagai negative operating leverage, sebuah sinyal merah bahwa struktur biaya perusahaan tumbuh jauh lebih liar dibandingkan pendapatan yang dihasilkan.

Akar Masalahnya Bukan Bahan Baku, Tapi Logistik

Analisis kami pada pos biaya secara granular mematahkan narasi bahwa inflasi harga bahan baku adalah penyebab utamanya. Data menunjukkan biaya bahan baku hanya naik 3%, masih di bawah pertumbuhan penjualan. Masalah sesungguhnya mengakar pada inefisiensi operasional akibat ekspansi ke wilayah baru. Beban penjualan tercatat melonjak 13,85%, dengan komponen biaya transportasi naik lebih dari 10% dan gaji karyawan penjualan membengkak hampir 18%. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa manajemen sedang "membakar uang" di sektor logistik dan distribusi demi mengejar pangsa pasar. Fenomena ini kerap disebut sebagai strategi mahal yang memakan korban margin laba jangka pendek.

Pertaruhan Arus Kas dan Bom Waktu Penyusutan

Ambisi CLEO untuk menjadi raksasa nasional terlihat jelas dari agresivitas belanja modal (Capex). Perusahaan menggelontorkan dana tunai sebesar Rp316 miliar untuk investasi aset tetap, angka yang melampaui total laba bersih yang dihasilkan periode ini. Mayoritas dana tersedot untuk pembangunan pabrik dan mesin di luar pulau Jawa, tepatnya berlokasi di Palu (Sulawesi Tengah), Pontianak (Kalimantan Barat), dan Pekanbaru (Riau). Langkah ini merupakan upaya perseroan untuk menambah total pabrik menjadi 35 unit secara keseluruhan.

Meskipun arus kas operasi masih positif, besarnya nilai investasi ini menciptakan risiko "bom waktu" berupa lonjakan beban penyusutan. Kenaikan beban penyusutan sebesar 28% di kuartal ini hanyalah permulaan. Jika volume penjualan pabrik baru gagal tumbuh eksponensial, beban tetap ini akan terus menjadi parasit bagi profitabilitas di tahun-tahun mendatang.

Di Balik Harga Pasar Ada De-rating 44 Persen

Keluarnya CLEO dari radar MSCI adalah puncak dari proses penyesuaian valuasi (de-rating) yang sudah berlangsung setahun penuh. Harga saham yang anjlok 44,47% dalam 12 bulan terakhir mencerminkan hilangnya kepercayaan pasar terhadap label "saham pertumbuhan" (growth stock) yang selama ini melekat pada CLEO. 

Investor yang sebelumnya rela membayar valuasi premium (PE Ratio >30x) kini menarik dukungannya saat melihat laba bersih terkontraksi. Pola distribusi ini terlihat sangat terstruktur, dimulai dengan penurunan perlahan sepanjang 2025, berlanjut ke koreksi tajam 20% dalam tiga bulan terakhir, dan memuncak pada kepanikan jual 12,55% di bulan Februari ini.

Kesimpulan

Didepaknya CLEO dari indeks MSCI Small Cap adalah konsekuensi matematis dari penyusutan kapitalisasi pasar yang gagal bertahan di atas batas aman (buffer zone), mengacu pada metodologi index MSCI. Fenomena ini memberikan pelajaran krusial bagi investor tentang bahaya "Jebakan Pertumbuhan" (Growth Trap).

Kendati demikian, investor juga perlu melihat gambaran besar dari model bisnis "Air Murni" yang diusung perseroan. Berbeda dengan kompetitor "Air Mineral" yang terikat lokasi sumber mata air pegunungan, CLEO mengandalkan teknologi filtrasi yang memungkinkan pabrik dibangun di mana saja mendekati konsumen. Fleksibilitas ini adalah pedang bermata dua, di satu sisi memberikan skalabilitas tanpa batas geografis, namun di sisi lain strategi ini menuntut investasi modal (Capex) masif di awal untuk membangun jaringan pabrik yang terdesentralisasi.

Secara strategi bisnis langkah ini bisa diterjemahkan seperti apa?  Pertaruhan CLEO saat ini adalah balapan antara utang atau depresiasi versus efisiensi logistik. Sampai CLEO bisa membuktikan bahwa jaringan pabrik barunya mampu mencetak efisiensi distribusi, bukan hanya omzet, saham ini kemungkinan besar masih akan menghadapi tekanan valuasi di pasar sekunder.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi jual/beli.