EmitenNews.com - PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) resmi memperluas struktur entitasnya melalui pendirian anak usaha baru, PT Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI), pada 6 Februari 2026. Langkah ini dieksekusi manajemen di tengah momentum penguatan struktur permodalan perseroan pada awal tahun 2026. 

Dengan menyetorkan modal awal sebesar Rp18,7 miliar untuk porsi kepemilikan 85%, aksi korporasi ini menegaskan intensi INET untuk melakukan diversifikasi usaha secara vertikal. Fokus SIDI pada aktivitas pengolahan data dan platform digital mengindikasikan pergeseran strategis INET: tidak lagi hanya bertumpu pada jasa konektivitas (ISP) dan jaringan serat optik, melainkan mulai masuk ke ranah infrastruktur penyimpanan data (Data Center) untuk melengkapi ekosistem bisnis yang berpusat di Gedung Cyber 1.

Alokasi Modal yang Terukur dan Efisien

Pendirian SIDI mencerminkan strategi alokasi modal yang sangat penuh perhitungan dari manajemen INET. Melalui skema usaha patungan (Joint Venture), INET mengambil posisi sebagai pengendali mayoritas dengan kepemilikan 85% saham senilai Rp18,7 miliar, sementara 15% sisanya senilai Rp3,3 miliar dipegang oleh mitra strategis, PT Inti Pusat Data Nusantara (IPDN). 

Dengan total modal disetor sebesar Rp22 miliar, INET tidak memilih jalan pintas yang mahal dengan membakar triliunan rupiah untuk membangun gedung baru (Greenfield Hyperscale). Sebaliknya, mereka menerapkan model masuk pasar yang efisien (lean market entry) dengan mengoptimalisasi ruang atau layanan terkelola di lokasi strategis yang sudah ada. Pendekatan ini meminimalkan beban keuangan di awal sekaligus mempercepat proses monetisasi aset dibandingkan harus menunggu konstruksi fisik gedung bertahun-tahun.

Membaca Peluang di Tengah Kebutuhan Data Nasional

Keputusan INET untuk terjun ke sektor pusat data (data center) sangat relevan jika disandingkan dengan peta industri digital nasional saat ini. Meskipun pemain raksasa telah mendominasi pasar hyperscale (pusat data skala masif), terdapat kekosongan suplai yang nyata di segmen retail colocation dan edge data center yang menyasar Penyedia Jasa Internet (ISP) menengah serta korporasi yang butuh kustomisasi. 

Kehadiran SIDI di Jakarta, yang didukung oleh ekosistem perseroan di Gedung Cyber 1, memberikan potensi keunggulan strategis dalam hal konektivitas jaringan, mengingat posisi gedung tersebut sebagai salah satu hub internet utama di Indonesia. Bagi klien yang membutuhkan kecepatan tinggi seperti High-Frequency Trading, lokasi ini jauh lebih premium dibandingkan data center di kawasan industri pinggiran kota. Ditambah lagi, regulasi Perlindungan Data Pribadi (PDP) yang mewajibkan lokalisasi data menciptakan pasar yang pasti (captive market) bagi pemain lokal seperti SIDI.

Membangun Benteng Bisnis Lewat Integrasi Vertikal

Jika ditinjau dari kacamata strategi bisnis, INET sedang memperluas penguasaan rantai nilainya (value chain) untuk mempertebal margin laba. Di sisi hulu, INET memperkuat posisinya sebagai Internet Service Provider dan penyedia jaringan fiber optic. Sementara di sisi hilir, pendirian SIDI melengkapi ekosistem perseroan untuk menangkap peluang bisnis pengelolaan data dan platform digital.

Kini, dengan kehadiran SIDI di sisi hilir, INET membuka peluang pendapatan baru dari jasa penyimpanan dan pengolahan data. Strategi ini menciptakan potensi ekosistem bisnis terintegrasi, di mana klien korporasi dapat menikmati layanan konektivitas (ISP) dan infrastruktur data center dalam satu atap. Model bundling layanan infrastruktur seperti ini secara teoritis dapat menjadi katalis untuk memperkuat loyalitas pelanggan sekaligus meningkatkan nilai kontrak jangka panjang.

Mitigasi Risiko Melalui Kemitraan Strategis

Keputusan manajemen untuk menggandeng PT Inti Pusat Data Nusantara (IPDN) sebagai pemegang saham minoritas sebesar 15% mengindikasikan strategi mitigasi risiko yang matang. Kehadiran IPDN dalam struktur kepemilikan berpotensi melengkapi kapabilitas INET, di mana IPDN diharapkan dapat berperan sebagai mitra strategis yang mendukung aspek operasional teknis data center. Kolaborasi ini secara teoritis dapat mempercepat kurva pembelajaran (learning curve) perseroan dalam memasuki industri infrastruktur data, dibandingkan jika INET harus membangun seluruh keahlian tersebut secara organik dari nol.

Kesimpulan: Sebuah Evolusi, Bukan Sekadar Ekspansi

Secara keseluruhan, pendirian SIDI adalah manifestasi dari evolusi model bisnis INET yang semakin matang. Transisi dari sekadar menjual "pipa" distribusi internet menjadi penyedia "infrastruktur" penyimpanan data membuka peluang pendapatan berulang (recurring revenue) dengan kualitas margin yang lebih baik. 

Meskipun nilai investasi awal sebesar Rp22 miliar terlihat konservatif jika dibandingkan dengan para raksasa teknologi, angka ini justru menunjukkan prinsip kehati-hatian (prudence) manajemen dalam mengelola arus kas hasil obligasi. INET memilih untuk memulai dengan skala yang terukur, memastikan produknya diterima pasar (market fit), untuk kemudian melakukan eskalasi bisnis secara bertahap namun pasti. Bagi investor, ini adalah sinyal pertumbuhan fundamental yang layak dicermati.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi jual/beli.