Direktur Michael Albert Massie Mundur, Dijamin tak Berdampak Negatif
Ilustrasi PT Koka Indonesia Tbk. (KOKA). Dok. Koka Indonesia.
EmitenNews.com - Direktur PT Koka Indonesia Tbk. (KOKA), Michael Albert Massie mengundurkan diri. Manajemen emiten Konstruksi Gedung Industri, Bangunan Sipil dan Gedung Hunian itu, memastikan tidak berdampak negatif yang material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan. Juga kelangsungan usaha KOKA.
Corporate Secretary KOKA, Naina Bunga Haniffa menyampaikan hal tersebut dalam keterangan tertulisnya Jumat (11/4/2025).
Naina Bunga Haniffa menuturkan bahwa pada tanggal 10 April 2025, Perseroan telah menerima surat pengunduran diri dari Michael Albert Massie.
Hal-hal lain terkait pengunduran diri Direktur Perseroan tersebut akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Perseroan.
"Pengunduran diri ini tidak berdampak negatif yang material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha KOKA," urai Naina Bunga Haniffa.
Sebelumnya, PT Koka Indonesia Tbk (KOKA) pada 10 Februari 2025 telah menandatangani kontrak dengan PT Karunia Permai Sentosa pada Senin (10/2/2025).
Direktur Michael Albert Massie dalam keterangan resmi Selasa (11/2/2025) mengungkapkan bahwa kontrak itu terkait konstruksi conveyor corridor untuk lignite dan semi coke pada proyek feronikel pulau Obi.
Nilai kontraknya sebesar 12,25 juta yuan Tiongkok atau setara dengan Rp31,89 miliar dengan jangka waktu kontrak hingga 5 Juni 2025. Perseroan dan pemberi kontrak bukan merupakan pihak terafiliasi.
Michael menyebutkan perolehan kontrak dengan PT Karunia Permai Sentosa akan memberikan penambahan pendapatan perseroan selama masa kontrak. ***
Related News
Transformasi Portofolio, INPP Target Recurring Income 75 Persen
Hadirkan Solusi Embedded Finance, Bank Raya Gandeng Gaji.id
Perkuat Modal, ELPI Godok Right Issue 2,03 Miliar Lembar
Prajogo Kembali Bermanuver, Saham CUAN Orbit Zona Merah
Realisasi Dana IPO Nol, Cek Jawaban YUPI Saat Dicecar Pertanyaan BEI
Target 2025 Terlewati, Prapenjualan BSDE Tembus Rp10 Triliun





