EmitenNews.com - Purnomo Prawiro menambah timbunan saham Blue Bird (BIRD). Pendiri taksi burung biru itu, diketahui telah menjala 52.560.000 helai alias 52,56 juta saham raksasa jalanan ibu kota seluruh provinsi nusantara tersebut. Transaksi pembelian telah ditahbiskan pada 15 Juni 2026.

Transaksi akumulasi dilakukan dengan harga pelaksanaan Rp1.490 per lembar. Menyusul skema harga itu, Purnomo dipaksa merogoh kocek senilai Rp78,31 miliar. Sebagai konsekuensi dari transaksi itu, koleksi saham BIRD dalam gendongan Purnomo lumayan makin menebal.

Tepatnya, menjadi 354,85 juta eksemplar atau setara dengan 14,182 persen. Bertambah 2,1 persen dari episode sebelum transaksi dengan tabulasi 302,29 juta lembar. Donasi saham sebelum pelaksanaan transaksi itu, selevel dengan 12,082 persen.

Tampung Dividen Jumbo

Transaksi dengan tujuan investasi itu, jelas tidak bisa dipisahkan dengan kinerja apik perseroan. Di mana, BIRD telah memutuskan penyaluran dividen tidak sedikit. Yaitu, Rp166 per lembar dengan masa pencairan pada 10 Juli mendatang.

Kalau komposisi timbunan saham dalam genggaman Purnomo tidak ada penambahan atau pengurangan, dipastikan bos Blue Bird tersebut akan mereguk dividen senilai Rp58,90 miliar. Sejatinya, tanpa menambah porsi saham itu, Purnomo juga telah mengamankan dividen Rp50,18 miliar.

Artinya, dengan membeli 52,56 juta lembar senilai Rp78,31 miliar, Purnomo menambah pundi-pundi dividen sebesar Rp8,72 miliar. Ya, sekadar informasi, BIRD akan membagi dividen Rp415 miliar alias 65,32 persen dari tabulasi laba bersih tahun buku 2025. Tahun lalu, BIRD meraup laba Rp635 miliar.

Aset Makin Gemuk

Sepanjang kuartal I 2026, BIRD mencatat pendapatan bersih Rp1,45 triliun, meningkat 11,5 persen dari edisi sama tahun lalu Rp1,30 triliun. Pendapatan dikontribusi dari taksi Rp1,02 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp911,50 miliar. Pendapatan non-taksi juga meningkat dari Rp390,21 miliar menjadi Rp431,68 miliar.

Beban langsung bengkak dari Rp875,01 miliar menjadi Rp1,01 triliun terutama disebabkan kenaikan beban operasional, dan beban penyusutan. Hasilnya, laba bruto masih tercatat naik sekitar 4,2 persen menjadi Rp444,71 miliar dari Rp426,69 miliar. Namun, kenaikan beban usaha cukup signifikan menekan profitabilitas perseroan.