EmitenNews.com -Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) dalam pemilu 2024 berpotensi mengubah lanskap perdagangan global secara signifikan. Berdasarkan analisis Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, kebijakan ekonomi Trump yang berorientasi domestik (inward-looking policy) diperkirakan akan memicu fragmentasi perdagangan global.

Trump dikenal dengan kebijakan proteksionisnya yang menargetkan negara-negara dengan surplus perdagangan tinggi terhadap Amerika Serikat, seperti China, Uni Eropa, Meksiko, dan Vietnam. Tarif perdagangan yang tinggi hingga 25% untuk besi, aluminium, kendaraan bermotor, mesin elektronik, dan chemical diperkirakan akan memperlambat arus perdagangan global. Kebijakan ini secara langsung menekan aktivitas ekspor impor di berbagai negara, terutama yang sangat bergantung pada perdagangan internasional.

Akibat kebijakan proteksionis Trump, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melemah dari 3,2% menjadi 3,1% pada tahun 2025. Kawasan Asia dan Pasifik juga diramal tumbuh lebih lambat, yaitu 4,8% pada tahun 2025 dari prediksi sebelumnya 4,9%. Proyeksi ini mencerminkan ekspektasi penurunan permintaan domestik dan ekspor di berbagai negara berkembang. Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

IHSG memiliki eksposur besar terhadap sentimen global, terutama yang terkait dengan hubungan perdagangan AS-China. Eskalasi perang dagang berpotensi menekan sektor komoditas dan manufaktur yang sangat bergantung pada pasar ekspor. Saham-saham di sektor ini mungkin akan menghadapi tekanan jual yang signifikan. Perlu dicatat China adalah salah satu pasar ekspor utama Indonesia, perlambatan ini dapat menekan kinerja ekspor Indonesia yang kemudian akan berdampak pada pendapatan perusahaan dan pergerakan IHSG.

Kebijakan proteksionis Trump diprediksi dapat memperkuat dolar AS, sehingga akan dapat menekan nilai rupiah. Pelemahan nilai tukar rupiah ini akan mempengaruhi emiten yang memiliki utang dalam mata dolar dan juga berefek pada berkurangnya daya beli masyarat akibat kenaikan harga barang impor. Selain itu, pemotongan pajak (tax cut) yang diusulkan Trump berpotensi mendorong konsumsi domestik di AS dan meningkatkan tekanan inflasi. Jika The Federal Reserve (The Feed) merespons dengan menaikkan suku bunga, arus modal global dapat beralih ke aset-aset berbasis dolar, yang pada akhirnya mengakibatkan pelemahan IHSG.

Tapi, bukan berarti terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat untuk kedua kalinya membuat perekonomian di Indonesia menjadi suram. Meningkatnya tarif AS terhadap China, beberapa investor mungkin akan mengalihkan produksi ke negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ini berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor properti, infrastruktur, dan manufaktur dalam negeri. Namun, realisasi manfaat ini memerlukan waktu dan tidak akan langsung terasa di pasar saham.

IHSG dalam jangka pendek kemungkinan besar akan mengalami tekanan karena ketidakpastian kebijakan AS. Dalam jangka menengah hingga panjang, pasar saham Indonesia berpotensi pulih jika mampu menarik investasi asing yang terdiversifikasi dan memanfaatkan relokasi produksi dari China. Sedangkan bagi investor, peluang keuntungan dari pasar saham akan tetap terbuka, terutama bagi investor yang mampu beradaptasi dengan perubahan dinamika pasar.

Adapun langkah-langkah strategis yang dapat diambil investor dalam merespon terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS adalah sebagai berikut:

Pertama: Fokuslah pada saham berfundamental kuat. 

Sebagai investor di pasar saham, fokus pada saham berfundamental kuat sangat penting dalam menghadapi situasi ketidakpastian ekonomi dan politik, salah satunya adalah kebijakan perang dagang dari Donald Trump. Pilihlah saham emiten dengan kinerja keuangan yang solid, rasio utang yang rendah, dan memiliki daya saing yang tinggi di pasar domestik sehingga dapat memberikan perlindungan dari volatilitas global.