EmitenNews.com - Sepintas, mesin operasional PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) terlihat sedang berlari sangat kencang di awal tahun ini. Berdasarkan Laporan Keuangan per 31 Maret 2026, pendapatan murni (hasil jualan bersih) perseroan sukses menembus Rp1,13 triliun, naik signifikan dibandingkan Rp953,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Bahkan, perusahaan terlihat makin efisien. Keuntungan murni dari hasil jualan setelah dikurangi modal dan biaya operasional (Laba Usaha) melompat pesat menjadi Rp211,9 miliar, dari sebelumnya hanya Rp62,3 miliar. 

Angka-angka di atas seharusnya menjadi kabar gembira bagi investor. Namun, sebuah anomali justru muncul di baris paling bawah. Laba Bersih yang benar-benar menjadi hak pemegang saham (Laba Neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk) malah menyusut tajam menjadi Rp12,5 miliar saja. Angka ini turun drastis dari capaian Rp57,6 miliar pada awal tahun lalu.

Pertanyaannya, jualan naik triliunan dan operasional makin hemat, tapi kenapa laba bersihnya malah anjlok?

Faktor Penekan Keuntungan BNBR 

Turunnya laba bersih ini utamanya disebabkan oleh naiknya tagihan Beban Bunga dan Keuangan (biaya cicilan bunga utang ke pihak luar). Beban bunga ini melonjak dari hanya Rp6,6 miliar di awal tahun 2025 menjadi Rp228,2 miliar pada Kuartal I 2026. Tagihan bunga ini hampir menyerap seluruh keuntungan operasional yang susah payah didapat perusahaan selama tiga bulan pertama. 

Lonjakan beban bunga ini adalah hal yang wajar karena BNBR baru saja mengambil alih proyek Tol CCT yang butuh dana besar. Liabilitas jangka panjang (utang yang jatuh temponya lebih dari setahun) BNBR kini mencapai Rp14,7 triliun. 

Utang ini didominasi oleh pinjaman sindikasi (pinjaman patungan dari banyak bank) senilai Rp9,71 triliun yang ditarik oleh anak usahanya, PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT), ditambah pinjaman dari Hartman International Ltd sebesar Rp3,70 triliun untuk mendanai pembelian saham tol tersebut. 

Grup Bakrie memang sedang mengubah arah bisnisnya menjadi perusahaan infrastruktur yang butuh modal besar (heavy-asset). Saat ini, hak pengelolaan jalan tol bernilai Rp14,98 triliun dan menjadi aset terbesar perusahaan. Tentu saja, bisnis jalan tol yang bernilai belasan triliun ini butuh sokongan utang bank yang besar pula. 

Kas yang Harus "Tekor" Sementara