EmitenNews.com - Mendongkrak hasil produksi kelapa sawit nasional, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendatangkan serangga penyerbuk dari Tanzania. Serangga penyerbuk memegang peranan penting dalam meningkatkan hasil panen kelapa sawit.

Dalam lima tahun terakhir, produksi kelapa sawit nasional dilaporkan mengalami stagnasi. Kondisi itu diproyeksikan masih akan berlanjut hingga 2026, sehingga menjadi tantangan serius di tengah permintaan yang terus meningkat. Untuk itu, industri mencari cara meningkatkan produktivitas tanpa membuka lahan baru.

Dalam keterangannya yang dikutip Minggu (8/2/2026), Media Relations GAPKI Mochamad Husni menjelaskan, tantangan utama industri sawit saat ini berada pada sisi produktivitas. Karena itu, GAPKI memperkuat kerja sama internasional, salah satunya dengan Tanzania, untuk mendatangkan serangga penyerbuk yang dinilai lebih efektif.

Dalam Workshop Jurnalis Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Husni menyebutkan, tantangan produktivitas itu dijawab dengan terus meningkatkan kerja sama untuk mendorong peningkatan produktivitas industri sawit saat ini. 

“Yang bisa saya highlight di sini, belum lama ini kami bekerja sama dengan Tanzania untuk mendatangkan serangga penyerbuk," kata Mochhamad Husni.

Serangga penyerbuk dari Tanzania diyakini mampu bekerja lebih optimal dibandingkan serangga yang saat ini digunakan di Indonesia. Dengan begitu serangga penyerbuk itu efektif dalam meningkatkan fruit set tanaman kelapa sawit.

Serangga penyerbuk yang ada saat ini sudah mulai menurun efektivitas penyerbukannya. Karena itu, opsi mendatangkan serangga dari luar negeri dipilih sebagai solusi.

Selain mengimpor serangga penyerbuk, GAPKI juga bekerja sama dalam mendatangkan tanaman dari Tanzania. 

Kebijakan ini diharapkan bisa mulai diterapkan di sejumlah perkebunan sawit sebagai jawaban atas tantangan produktivitas. Khususnya dalam mendukung implementasi program biodiesel B40, maupun program mandatori biodiesel dengan tingkatan yang lebih tinggi lagi, yakni B50.

"Kami akan menjawab tantangan tentang produktivitas itu di B40. Kita harap bulan Maret sudah mulai di beberapa perkebunan," ujarnya.

Satu hal lagi, Husni menjelaskan, stagnasi produksi sawit nasional tidak terlepas dari usia tanaman yang sudah memasuki fase tua.

"Mengenai stagnasi, tanaman sawit di Indonesia, sebetulnya sudah masuk dalam siklus yang kedua. Jadi, banyak tanaman sudah tua, di atas 25 tahun, sehingga produktivitasnya mulai menurun," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat produktivitas sawit nasional tidak lagi tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Itulah yang mengakibatkan produktivitasnya menjadi stagnan. Sudah sejak 5 tahun lalu terjadi stagnasi.

Sementara itu untuk menjawab persoalan usia tanaman, GAPKI mendorong program peremajaan atau replanting sebagai solusi jangka menengah dan panjang. Penanaman kembali sangat penting, untuk mengganti pohon sawit yang sudah tua.

"Tentu saja kita menggenjot program replanting. Replanting  jadi sesuatu yang sangat penting, mengingat kita sudah masuk siklus kedua di Indonesia. Jadi sudah mulai terjadi penurunan produksi," terang Husni.

Melalui program replanting, industri sawit berharap produktivitas dapat kembali meningkat. Karena itu, sejumlah perusahaan sawit mulai mengganti tanaman-tanaman tua dengan tanaman baru melalui program replanting. ***