EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diprediksi bergerak fluktuatif awal pekan ini. Pada perdagangan Jumat (17/4/2026), rupiah susut 50 poin menjadi Rp17.188 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.138.

“Sedangkan untuk perdagangan senin besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di tentang Rp17.180 sampai dengan Rp17.220,” kata pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, dikutip Sabtu (18/4/2026).

Meski ada optimisme konflik Timur Tengah akan segera berakhir usai gencatan senjata selama 10 hari antara Iran dan AS, Ibrahim menilai rupiah masih berpotensi melemah. “Sedangkan range untuk sepekan melemah, berada di level Rp17.150 sampai Rp17.300,” lanjut Ibrahim.

Dilaporkan Presiden AS Donald Trump mengatakan Teheran telah menawarkan untuk tidak memiliki senjata nuklir selama lebih dari 20 tahun. Trump mengklaim, dirinya sudah mendekati kesepakatan dengan Iran.

Kampanye Israel di Lebanon menjadi hambatan utama mengamankan kesepakatan perdamaian untuk mengakhiri perang terhadap Iran. “Untuk mencegah konflik, para negosiator AS dan Iran berupaya mencari memorandum sementara sebagai ganti pesimisme adanya kesepakatan perdamaian komprehensif,” ujar Ibrahim.

Sementara kondisi domestik tampak ekonomi Indonesia mengawali 2026 dengan cukup meyakinkan. Hal itu terlihat dari inflasi yang terjaga dan dekat dengan target Bank Indonesia. Neraca perdagangan juga tercatat surplus, dengan sektor komoditas batubara hingga minyak kelapa sawit masih memberi bantalan terhadap tekanan global.

Namun, menginjak akhir kuartal I-2026 muncul tekanan eksternal, akibat eskalasi perang AS-Iran dengan celag membawa kenaikan harga minyak di atas asumsi makro yang jadi perhitungan dasar APBN.

Harga minyak Brent sempat menembus USD118 per barel pada beberapa pekan awal perang. Kini, perang telah berlangsung selama tujuh pekan, dan belum ada tanda-tanda akan mereda dalam waktu dekat.

“Walaupun harga minyak mentah naik namun, pemerintah berkomitmen tidak menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi. Transmisi ini yang dijaga pemerintah agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Sebab, jika tidak, inflasi akan semakin tak terbendung,” kata Ibrahim. (*)