Dukung Industri Rendah Emisi, TSR Pabrik SIG Tembus 25 Persen
:
0
Pemanfaatan refuse-derived fuel (RDF) yang berasal dari sampah perkotaan, limbah industri dan biomassa sebagai bahan baku alternatif (Foto: SIG)
EmitenNews.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) atau Semen Indonesia Group terus mendorong penggunaan bahan bangunan rendah emisi sebagai bagian dari upaya menekan jejak karbon industri konstruksi. Langkah tersebut tidak hanya dilakukan melalui pengembangan produk, tetapi juga lewat perubahan proses produksi dan pemanfaatan energi alternatif di pabrik.
Komitmen tersebut kembali ditegaskan perseroan melalui kolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) dalam Indonesia Green Building Festival 2026 yang digelar di lima kota, yakni Bandung, Yogyakarta, Makassar, Denpasar dan Surabaya.
Direktur Operasi Semen Indonesia Group (SIG), Reni Wulandari mengatakan transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan keterlibatan seluruh rantai nilai, termasuk produsen bahan bangunan.
“Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek,” kata Reni dalam keterangannya, Rabu (9/9/2026).
Dari sisi operasional, SIG menerapkan prinsip ekonomi sirkular melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif. Sumbernya antara lain refuse-derived fuel (RDF) yang berasal dari sampah perkotaan, limbah industri dan biomassa.
Pemanfaatan bahan bakar alternatif tersebut membuat thermal substitution rate (TSR) di pabrik-pabrik SIG telah mencapai 25%. Perseroan juga mengembangkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT), antara lain melalui pemasangan solar panel serta pemanfaatan gas panas buang menggunakan Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).
Upaya penurunan emisi juga dibarengi digitalisasi proses produksi. SIG menerapkan plant digitalization, termasuk penggunaan plant optimizer di sejumlah pabrik untuk mengoptimalkan proses sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi. Implementasi teknologi tersebut akan terus diperluas ke pabrik lainnya.
Rangkaian efisiensi proses dan penggunaan energi alternatif tersebut kemudian menopang pengembangan produk semen dengan intensitas emisi lebih rendah. SIG menyebut semen hijaunya memiliki intensitas emisi hingga 38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional, dengan kualitas yang setara untuk kelas peruntukannya.
Portofolio bahan bangunan rendah emisi SIG juga tidak terbatas pada semen melainkan juga produk beton hingga Bata Interlock Presisi sebagai produk turunan semen hijau untuk kebutuhan konstruksi.
Bagi SIG, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menghadapi perubahan kebutuhan industri konstruksi. Reni menilai aspek keberlanjutan semakin menjadi faktor bisnis di tengah persaingan industri yang ketat
Related News
Sisa Dana IPO Rp3 Miliar, Emiten Voucher (DIVA) Parkirkan di BCA
Emiten Hapsoro (BUVA) Kucurkan Pinjaman Tambahan Rp22M ke Anak Usaha
Menengok Taktik Emiten SCNP Penuhi Free Float 15 Persen
BMRI–PSAB Bersiap Cum Dividen 15 September, BBCA–CMRY Cair Pekan Ini!
Salurkan KPP Rp7,4 Triliun, BTN (BBTN) Dorong Pelaku Usaha Naik Kelas
GRIA Absen Dividen hingga Hapus Jabatan Direktur Pemasaran, Ada Apa?





