EmitenNews.com - Pada masa lampau, kekeringan pada hamparan petak sawah merupakan persoalan pertanian semata. Namun, kini, dampaknya niscaya menjalar hingga ke ruang rapat direksi bank. Karena -dalam bisnis modern- sumbu antara krisis iklim dengan risiko keuangan begitu pendek.

El Nino tidak lagi sekadar fenomena cuaca, tetapi menjadi pemicu tekanan pangan, biaya produksi, hingga stabilitas ekonomi. Deputi Gubernur Bank Indonesia Ricky P. Gozali (2026) mengingatkan bahwa risiko El Nino perlu diwaspadai karena berpotensi menekan produksi pangan dan meningkatkan tekanan biaya produksi.

Fenomena El Nino memperpanjang musim kering yang berjalin berkelindan sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pengaruhnya tidak terhenti pada kerusakan lingkungan semata, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat luas, rantai pasok, produktivitas usaha, serta keberlangsungan operasional sektor-sektor tertentu, utamanya yang memiliki keterkaitan dengan kondisi iklim.

Diskursus El Nino tersebut -yang diperkirakan terus menguat di kawasan Timur Nusantara hingga Oktober 2026- menjadi alarm bahwa tidak ada lagi garis demarkasi antara risiko iklim dengan wacana ekonomi. Musim kering dan karhutla kini memberikan dampak yang panjang, tidak terhenti hanya pada persoalan berkurangnya curah hujan dari langit ataupun menurunnya hasil panen.

Pengaruhnya akan menghantam rantai nilai (value chain): menekan produksi pangan, meningkatkan harga, mendorong inflasi, melemahkan daya beli masyarakat, mengganggu aktivitas usaha dan pada gilirannya akan meningkatkan risiko kualitas kredit bank. Dengan kata lain, El Nino dan karhutla bukanlah fenomena alam an sich, melainkan fakta empiris bagaimana risiko lingkungan itu akan bertransmisi menjadi risiko ekonomi dan keuangan.

Intinya, peta usaha tengah bergerak memasuki suatu era dimana berbagai risiko yang sebelumnya dianggap berada jauh diluar arena usaha dan keuangan telah bergeser menjadi bagian yang inheren dalam pengambilan keputusan bisnis secara berkelanjutan. Perubahan iklim tidak lagi hanya berbicara mengenai alam di masa depan, tetapi juga tentang kemampuan para pebisnis untuk bertahan; kemampuan masyarakat luas memenuhi kewajiban keuangan; serta ketahanan sistem perekonomian secara holistik.

Bahkan, Network for Greening the Financial System (NGFS, 2023) telah mengingatkan: perubahan iklim menciptakan dua risiko utama bagi sektor keuangan, yaitu: risiko fisik (physical risk) akibat perubahan dan/atau krisis iklim serta risiko transisi (transition risk) akibat perubahan menuju transisi ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Bagi Republik ini, wacana tersebut semakin relevan karena struktur ekonomi kita memiliki keterkaitan erat dengan sektor sensitif terhadap kondisi alam, seperti: pertanian, pangan, perdagangan, energi, dan UMKM. Asian Development Bank (ADB, 2023) menyoroti negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik memiliki kerentanan terhadap perubahan iklim karena keterkaitan aktivitas ekonominya dengan sektor berbasis sumber daya alam.

 Data berbicara dan bukti juga telah menunjukkan betapa dampak El Nino terhadap perekonomian bukan sekadar asumsi. Pada periode 1997–1998 -salah satu episode terparah yang pernah dicatat sejarah- menyebabkan kekeringan akut di Indonesia. Hal ini menyebabkan tekanan serius terhadap ketahanan pangan nasional.

FAO (1998) mencatat produksi padi Indonesia pada 1998 susut menjadi sekitar 45,3 juta ton. Sementara, kebutuhan impor beras meningkat hingga 5,14 juta ton demi menjaga ketahanan pangan nasional. Hal ini memberikan cermin penting betapa krisis iklim dapat menjadi distorsi perekonomian seketika menyentuh sektor yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.